10 Cara Stimulasi Kecerdasan Anak

7
1634

Assalamu’alaikum Ayah dan Bunda,

Sebagai orang tua pasti dong ingin anak yang sholeh, cerdas, dan kreatif. Banyak yang beranggapan faktor keturunan mempengaruhi kecerdasan. Ya, mungkin ada benarnya. Namun, ini hanya salah satu faktor saja. Kecerdasan anak bisa distimulasi sejak usia dini bahkan masih dalam kandungan. Ini juga berlaku agar buah hati menjadi anak yang sholeh dan kreatif. Stimulasi yang tepat akan membantu Ayah dan Bunda untuk memaksimalkan kecerdasan anak.

Pada dasarnya, otak manusia terdiri dari jutaan saraf. Di mana stimulasi yang tepat sejak usia dini akan membantu saraf-saraf tersebut saling terhubung. Sehingga, ketika anak sudah memasuki usia tertentu, otaknya akan mudah menerima informasi dari luar.

Nah, apa saja stimulasi yang dapat Ayah-Bunda praktikkan untuk merangsang otak sang buah hati? Berikut 10 cara yang bisa Ayah-Bunda lakukan:

  1. ASI

Hingga saat ini belum ada penelitian yang menemukan dampak negatif dari pemberian ASI (Air Susu Ibu) kepada anak, apalagi di bawah usia 2 tahun. Justru sebaliknya, belum ada produk lain yang nutrisinya sama dengan nutrisi ASI ini. Namun, tak perlu khawatir jika karena suatu hal, Bunda tak bisa memberikan ASI-nya untuk buah hati. Masih ada cara lain untuk tetap memberikan ASI pada anak sesuai dengan kebutuhannya.

  1. Murrotal

Telinga bagian dalam janin berkembang sepenuhnya pada minggu ke-20 kehamilan. Berarti, janin sudah mampu mendengar suara yang ada disekitarnya. Ia sudah bisa mendengar detak jantung Bunda, sapaan Ayah, dan suara lainnya. Oleh sebab itu, menstimulasi anak bisa dimulai sejak usia ini hingga anak lahir dan menginjak balita.

Memaksimalkan pendengaran merupakan salah satu kunci menstimulasi otak. Anak bisa belajar dari apa yang didengarnya. Nah, murrotal atau suara bacaan Al Qur’an bisa menjadi salah satu pilihan untuk merangsang otak anak.

  1. Visual

Selain mendengar suara, visual dapat merangsang otak anak. Visual juga dapat mengalihkan perhatian anak dan membuat anak fokus terhadap sesuatu. Ayah-Bunda pasti sering melihat anak fokus menyaksikan gambar bergerak di televisi. Meskipun tidak semua gambar bergerak dan kaya warna akan berdampak positif buat anak.

Nah, pe-er Ayah-Bunda adalah memastikan bahwa visual yang ditonton anak sesuai dengan tingkatan usia dan perkembangannya. Hal ini bisa diperkuat dengan adanya audio yang menyertai visual untuk anak.

Anak juga dapat belajar kosakata dari audio-visual yang sering ia jumpai. Perkembangan anak untuk belajar kosakata bisa dioptimalkan pada saat anak baru lahir hingga usia 3 tahun dan terutama pada usia 6 – 12 bulan.

  1. Ajak Anak Bermain

Memaksimalkan kecerdasan anak, kuncinya dengan mengoptimalkan panca indera mereka. Anak akan lebih mudah belajar jika seluruh panca inderanya digunakan. Dan tentu, masa kanak-kanak adalah masa bermain bagi mereka. Oleh sebab itu mengajak anak bermain yang juga melibatkan gerak fisik akan sangat bermanfaat bagi mereka.

Tidak hanya bermain dengan Ayah-Bunda, si buah hati juga bisa diajak bermain dengan anak seusianya. Ini juga dapat mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.

  1. Eksplorasi Alam

Saat usia anak dirasa cukup, anak bisa diajak jalan-jalan untuk mengekplorasi apa yang ada di alam. Banyak yang bisa dipelajari anak ketika ia berada di lingkungan yang berbeda dari yang biasanya mereka lihat.

Belajar tentang tumbuhan, hewan yang ada di luar rumah, mengenal orang lain yang belum pernah ditemuinya, dapat merangsang kepekaan anak terhadap lingkungannya. Kebun binatang atau taman terbuka bisa menjadi salah satu pilihan bagi Ayah dan Bunda untuk mengajar mereka mengeksplor alam.

  1. Mengenal Emosi

Emosi, bukan hanya rasa marah. Tapi juga senang, sedih, sakit, takut, khawatir, dan sebagainya. Anak perlu diajarkan untuk mengenal emosi dan menyalurkannya. Jangan mengajarkan anak untuk menyembunyikan emosinya atau justru membuat anak tidak mengenal emosinya. Lalu, bagaimana cara mengajarkan anak mengenal emosi? Bisa dengan cara ketika anak melampiaskan emosi dengan hal yang Ayah dan Bunda kurang setujui, tunjukan bahwa itu kurang baik untuknya.

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan ada cara lain untuk menunjukan emosi mereka. Sesekali reward atau sekedar pujian bisa diberikan jika ia mampu menunjukan emosinya dan mampu bersikap sesuai dengan apa yang Ayah-Bunda harapakan. Mengenal emosi dapat diajarkan pada anak di atas usia 3 tahun, di mana anak usia ini sudah dapat mengerti bahwa perbuatannya dapat berakibat pada sesuatu.

  1. Ajak Bicara

Ternyata mengajak anak berbicara meskipun mereka masih bayi, sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang mereka. Salah satu studi yang dilakukan oleh Betty Hart dan Todd Risley, psikolog dan penulis buku The 30 Million Word Gap by Age 3. Studi itu menemukan hasil ada hubungan antara kesuksesan akademis dengan jumlah kata yang diucapkan sang Bunda ketika anak baru lahir hingga usia 3 tahun.

  1. Pelukan

Tentu kita setuju bahwa sebuah pelukan dapat menentramkan hati dan menjadikan kita tenang. Ini juga berlaku untuk anak. Pelukan Ayah dan Bunda terhadap mereka tak hanya dapat menenangkan mereka tapi juga secara emosi dapat meningkatkan rasa percaya diri dan membuat mereka mengenal emosi.

  1. Jadilah Tauladan

Anak adalah peniru ulung. Di bawah 7 tahun, anak dianggap belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ia meniru apa yang tertangkap oleh inderanya. Oleh sebab itu, sebelum memasuki usia sekolah, Ayah dan Bunda harus siap menjadi role model (model peran) atau tauladan bagi sang anak. Bukan berarti Ayah dan Bunda tak boleh melakukan kesalahan, tapi ketika melakukan kesalahan, anak harus dilibatkan dalam penyelesaiannya.

  1. Asupan Gizi

Terakhir dan tak kalah penting, asupan gizi sang buah hati perlu diperhatikan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi generasi cerdas, sholeh dan sehat jasmani serta rohaninya.