8 Nilai Islam Ini Penting Untuk Bekal Anak Hadapi Tantangan Jaman (Part 2)

2
202
5. Tanamkan sikap optimis dan pantang menyerah

“Apabila kamu memiliki sebiji kurma ditanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga ka mendapat pahala.” (HR. Imam Ahmad)

Jelas bahwa hadits di atas mengajarkan pada kita untuk selalu optimis dalam melakukan hal yang baik, dan tidak cepat putus asa. Optimisme tidak bisa tertanam secara instan. Perlu ditanamkan sejak dini untuk memiliki sikap optimis dan pantang menyerah. Tanamkan pada mereka bahwa yang terpenting adalah usaha. Allah SWT-lah yang akan menentukan hasil dari setiap usaha tersebut.

6. Tumbuhkan jiwa pemberani

Ketika anak menangis, kadang-kadang kita mencoba untuk menenangkan mereka dengan cara menakut-nakutinya. Misal, menakuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan sebagainya. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut.

Contoh lain, ketika mereka mendapat luka berdarah karena terjatuh dan merasa kesakitan, kita perlu tetap tenang menghadapi ketakutan anak dan rasa sakit mereka. Kekhawatiran kita justru akan membuat anak selalu takut saat merasa sakit atau melihat darah.

7. Bantu anak menentukan tujuan pribadi

Perlu ditanamkan pada diri anak bahwa manusia mempunyai keterbatasan waktu untuk hidup dunia. Dan kita perlu senantiasa mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal kelak di akhirat. Ajarkan pada mereka untuk memahami tujuan pribadi agar selesai berorientasi pada ibadah manusia kepada Tuhannya.

8. Bantu anak mengenali kekuatan dan kelemahannya

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia member kami pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”

Sebelum membuat anak mengenali apa kekuatan dan kelemahannya, orangtua perlu untuk menggali hal ini. Tak perlu memaksakan kehendak orangtua agar anak menjadi sosok A atau sosok B. Tapi orangtua pelu menggali potensi pada diri anak dan menjadikan kelemahan anak bukanlah masalah.

Tak ada manusia yang sempurna. Anak-anak perlu memahami hal ini. Ia tak perlu malu dengan kelemahannya. Karena ia mempunyai kekuatan agar ia tetap mampu untuk mensyukuri setiap pemberian Allah SWT. (<< SEBELUMNYA)