9 Rambu-Rambu dalam Mendidik Anak

2
724

Assalamu’ailkum Bunda dan Ayah

Mendidik anak bukanlah sesuatu yang mudah. Konsekuensi menjadi orang tua tidaklah kecil. Oleh sebab itu, menjadi orang tua perlu kesiapan dan pedoman. Dalam hal mendidik buah hati, Allah Ta’ala telah berfirman:

 “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, yaitu dengan memalingkan kalian dari taat kepada Allah untuk memenuhi keinginan mereka.” (QS. At Tagabun: 14)

Elly Risman, seorang psikolog yang banyak berkecimpung pada bidang parenting anak memberikan rambu-rambu. Rambu tersebut menurut Elly Risman, yang juga menjabat sebagai Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, sering kali diabaikan orang tua. Entah secara sadar ataupun tidak. Apa saja rambu dalam mendidik anak menurut Elly Risman? Berikut ulasannya:

  1. Bertanggung jawab penuh

Tanggung jawab terhadap anak meliputi tanggung jawab lahiriah dan batiniah. Tanggung jawab terhadap anak tidak melulu mengenai ketersediaan waktu untuk anak. Banyak orang tua pekerja yang mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik sebagai orang tua.

Tak sedikit pula orang tua yang mengahabiskan waktunya dalam ranah domestik rumah tangga namun abai terhadap tanggung jawabnya. Pun begitu sebaliknya. Oleh sebab itu, ungkap Elly Risman waktu bukan hal yang paling mempengaruhi terpenuhinya tanggung jawab orang tua.

”Setiap anak yang dilahirkan,adalah fitrah.Tinggal kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.”(HR.Bukhari).

  1. Selalu ada untuk anak

Ini yang sering menimbulkan perdebatan bagi para orang tua pekerja dan orang tua yang tinggal di rumah. Mayoritas bagi para Bunda, tentunya. Namun, agaknya perlu digarisbawahi sama halnya dengan poin nomor satu di atas. Selalu ada untuk anak, bukan berarti menjadi Ibu Rumah Tangga lebih baik dibanding Ibu Pekerja, atau sebaliknya.

Sebenarnya yang dibutuhkan anak dari orang tua mereka tidak hanya kuantitas atau banyaknya waktu. Namun, tentu kualitas jauh lebih penting untuk anak. Selalu ada untuk anak, memastikan bahwa orang tua akan memberikannya yang terbaik bagi mereka. Baik itu perhatian, kedekatan, hubungan batin, dan sebagainya.

Yang pasti, menurut Elly Risman, orang tua selalu ada ketika anak sedang membutuhkan mereka sangat penting untuk tumbuh kembang emosi anak.

  1. Menciptakan kedekatan

Kedekatan antara orang tua dan anak tidak serta merta ada. Kedekatan itu perlu dibangun dan dibiasakan sejak kecil. Salah satunya dengan poin kedua di atas, bahwa orang tua selalu ada untuk anak. Kedekatan akan tumbuh dengan sendirinya.

Sebagai orang tua, tentu tak hanya membutuhkan kedekatan fisik dengan anaknya. Namun, kedekatan batiniah atau kedekatan emosi dengan anak justru lebih penting. Begini, tak selamanya orang tua berada di samping anak secara fisik. Namun, jika memiliki kedekatan emosi dengan anak, ketika anak butuh sesuatu atau sedang mengalami sesuatu ia akan “lari” ke orang tua. Jangan salah, ini tidak serta merta bisa terjadi begitu saja.

Menurut Elly Risman, banyak anak yang tidak dekat atau “lengket” dengan orang tuanya. Nah, edekatan dengan anak perlu dibangun. Karena tidak sedikit, anak melampiaskan dengan hal lain dibanding memilih orang tuanya.

Membiasakan komunikasi terbuka dengan anak juga dapat menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan kedekatan antara orang tua dengan anak.

  1. Tujuan pengasuhan jelas

Elly Risman sebagai penggagas Yayasan Kita dan Buah Hati pernah melakukan riset pada pasangan orang tua berusia 25 – 45 tahun. Hasilnya, mayoritas dari mereka tidak memiliki tujuan pengasuhan yang jelas terhada buah hati mereka.

Padahal, menurut Elly Risman tujuan pengasuhan orang tua ini merupakan pondasi penting dalam mendidik anak. Tujuan seperti apa yang ingin dicapai orang tua sehingga berdampak pada pola pengasuhan seperti apa yang baiknya mereka terapkan untuk anak.

Elly Risman menyarankn, jika orang tua tidak memiliki tujuan pengasuhan yang jelas, mereka harus mulai dari nol dan mulai menetapkan tujuan pengasuhan tersebut. Susun tujuan pengasuhan, sepakati. Ini tentu saja butuh peran Ayah dan Bunda, agar tujuan yang telah ditetapkan bersama bisa terwujud.

  1. Bicara yang baik

Penting mengajari anak untuk berakhlak mulia, termasuk dalam hal berbicara. Anak, sebagai peniru ulung tentu membutuhkan role model. Orang tua adalah role-model ideal yang pertama akan dilihat oleh anak. Oleh sebab itu membiasakan bicara yang baik kepada anak, secara tidak langsung dapat mengajarkan anak untuk berbicara yang baik pula.

Penting untuk digarisbawahi para Ayah dan Bunda, di depan anak selain harus berbicara baik juga biasakan untuk bicara jujur. Mulai dari hal-hal kecil, anak akan terlatih untuk tidak berbohong.

Sebagai umat Islam, berbicara yang baik adalah sebuah kewajiban, seperti dalam ayat berikut:

“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar… .” (Q.S Al Ahzab: 70)

  1. Pendidikan agama penting

Pendidikan agama penting bagi anak. Hal ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab orang tua. Kewajiban ini seperti ayat dalam salah satu surah berikut:

 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” ( Q.S.at-Tahrim: 6).

Namun, Elly Risman mengingatkan bahwa pendidikan agama ini bukan sekedar membuat anak supaya bisa sholat dan mengaji. Namun juga menanamkan kecintaannya kepada Allah SWT sehingga tertanam dalam diri anak untuk beribadah dengan keikhlasannya, tanpa perlu dipaksa.

  1. Menjaga pandangan anak

Menurut Elly Risman, apa yang dilihat seseorang berpengaruh pada munculnya “kekacauan otak”. Salah satu penyebabnya yaitu pornografi.

Jika seseorang telah kecanduan pornografi, menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda, dapat merusak 5 bagian otak. Bagian tersebut terutama bagian pre frontal corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Pecandu narkoba hanya merusak 3 bagian otaknya.

Menjaga pandangan juga telah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur : 30)

  1. Pendidikan tentang pubertas

Menjaga pandangan seperti poin di atas juga merupakan salah satu pendidikan sebelum anak puber. Sehingga ketika ia memasuki masa puber, ia telah mempunyai pegangan dengan “pandangan”nya.

Keingintahuan anak sangat besar. Bahkan, banyak anak yang belum memasuki masa puber namun rasa ingin tahunya tentang seksualitas, alat reproduksi, atau yang lainnya sudah besar. Nah, yang perlu disiapkan orang tua ketika si kecil bertanya adalah tidak perlu panik, gali sejauh mana si anak mengetahui sesuatu yang ditanyakannya, dan jawab pertanyaan anak sesuai batas usianya.

Pendidikan seks bagi anak itu penting dikenalkan sejak usia dini. Sesuaikan pengetahuan tersebut dengan tingkatan usia anak. Bisa dimulai dengan pengenalan tubuh dan apa yang dimiliki serta perlu dijaga oleh anak. Misal, jika anak masih balita, ajari anak untuk menolak orang yang ingin menciumnya kecuali Ayah, Bunda, dan keluarga dekat.

  1. Literasi media untuk anak

Masih berkaitan dengan menjaga pandangan dan pendidikan saat anak puber. Kehadiran internet di tengah-tengah kita tentu tak dapat ditolak. Ini juga berarti kita tak bisa selamanya menjauhkan anak dari internet. Karena internet dapat diakses dari barang terdekat kita, handphone. Apalagi jika dengan alasan tertentu kita mau tak mau harus membekali anak dengan gawai ini.

Karena itu, yang dibutuhkan anak ada literasi. Bagaiman menggunakan gawai yang kemungkinan besar terhubung internet sesuai dengan kebutuhan dia. Bukan untuk mengakses situs yang tidak baik untuk perkembangan si anak. Lebih jauh lagi, ke arah pornografi.

2 COMMENTS