Berbagi Cerita di Tengah Menangani Manik-Depresif pada Anak

2
175

Setiap malam dalam 3 bulan pertama saya menjadi seorang Ibu tidak pernah luput satu malam pun tanpa tangisan dari Athaya. Ia menjerit dan menangis serta sulit tidur, hal tersebut membuat saya cemas dan khawatir karena ia melakukan hal yang sama hingga usianya mencapai 18 bulan. Namun, pada usia 8,5 bulan Athaya sudah dapat berjalan, dan pada usianya yang menginjak 2 tahun ia sudah dapat mengucapkan satu kalimat penuh.

Tetangga dan kerabat dekat saya memuji kemampuan verbal yang dimiliki Athaya, namun saya dan suami merasa banyak hal aneh yang terjadi pada Athaya. Ia sering menendang dan berusaha menjauhi saya ketika digendong, ia juga menyukai hal-hal yang berbau keramaian sehingga saya berpikir bahwa  pertunjukan sirkus harus ada di rumah saya dan berlangsung selama 24 jam penuh dan tidak akan pernah selesai.

Hal-hal ekstrem semakin banyak saya temukan seiring dengan perkembangannya. Ketika Athaya sudah bisa berbicara, ia terus menerus berteriak tanpa henti, meraung-raung seperti hewan liar, selalu memukul dinding, menarik sprei kasur dan menggoreskan kukunya pada tembok. Ketika saya menyuapinya sarapan ia menarik sendok dari tangan saya dan memukulkannya ke hidung saya, tak lama kemudian ia melemparkan mangkuk yang berisi sereal di hadapannya sehingga saya harus mengelapnya, lalu ia menangis dan berteriak sambil berputar-putar sendiri seperti cacing kepanasan.

Saya mulai putus asa dan gagal menjadi seorang ibu dan merasa bahwa Athaya tidak bisa berteman dengan siapapun dan harus di ‘isolasi’. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membawanya ke psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, lalu saya menjelaskan secara rinci apa yang dialami oleh Athaya setiap hari dan dokter menanyakan riwayat penyakit mental yang dialami oleh keluarga dari saya dan pasangan saya, ia bertanya mengenai riwayat tilang, berapa jumlah anggota keluarga yang bercerai, kasus kriminal, dan lain sebagainya.

Hingga konsultasi tersebut membuahkan kalimat ‘manik-depresif’ atau dikenal juga dengan nama bipolar, diagnosa tersebut membuat hati saya hancur berkeping-keping dan merasa sangat frustasi untuk menghadapi buah hati saya yang akan saya asuh seumur hidup. Keadaan semakin parah ketika saya mencoba mengenalkan Athaya tentang interaksi sosial dengan hewan peliharaan, tentu saya tidak berani mencoba mengenalkan dia terlebih dahulu untuk bermain dengan anak tetangga atau saudaranya dengan alasan takut melukainya.

Alhasil, anak kucing yang saya berikan kepadanya disiksa satu persatu dengan cara yang mengenaskan, ia menggantung leher kucing di pohon dan menembakinya dengan pistol mainan, memasukan kucing tersebut ke dalam freezer, mengikat kakinya dengan karet hingga mati dan membusuk, semua itu ia lakukan ketika saya tertidur atau sedang membereskan kamarnya yang tidak pernah rapi.

Pada awalnya, hari demi hari saya lalui dengan menitikkan air mata tanpa henti dan terus berdoa untuk dapat menyelesaikan ‘kekacauan’ yang berada di dalam diri anak saya. Namun, saya menemukan titik temu penyelesaian masalah untuk menghadapi gangguan bipolar yang dialami anak saya dengan memahami filosofi bahwa anak adalah anugerah yang diberikan oleh Allah dan patut untuk disyukuri, semakin saya sering berdoa semakin saya mengumpulkan energi yang kuat dalam diri saya untuk menghadapi keseharian Athaya.

Saya mulai belajar mengajaknya ke taman rekreasi untuk melakukan piknik, berenang, pergi ke museum, dan mulai mengajarinya mengenai tanggung jawab, meminta maaf, memaafkan, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Saya mulai mencari hikmah dan menyadari bahwa tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali terus memberikannya kasih sayang yang utuh dan meyakini bahwa kelak Athaya akan menjadi anak yang sukses dan bisa membanggakan saya.

2 COMMENTS