Bunda, Sudah Efektifkah Komunikasi Kita dengan Anak- Anak?

1
247

Sebuah kata bijak mengatakan,

“Dua hal yang bisa merusak sebuah hubungan adalah harapan yang tidak masuk akal dan kurangnya komunikasi.”

Hal ini jelas mengindikasikan bahwa komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting keberadaannya di dalam sebuah hubungan.

Kurangnya komunikasi bukan berarti tidak adanya komunikasi sama sekali. Namun komunikasi yang ada tidaklah efektif untuk membentuk sebuah ikatan.

Ini pula yang sering terjadi pada hubungan orantua dan anak. Hal yang sering terjadi adalah para orangtua sudah merasa menjalin komunikasi dengan anak-anak mereka, padahal yang terjadi hanyalah sebuah dialog.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Bagaimana di sekolah?”

“Baik.”

“Ada PR?”

“Tidak.”

Nah, komunikasi yang semacam ini bukanlah komunikasi yang efektif karena kita tidak bisa menggali lebih dalam tentang perasaan si anak.

Komunikasi yang efektif memungkinkan anak-anak menjawab pertanyaan kita dengan bebas tanpa adanya tekanan sama sekali atau menerima masukan dari kita tanpa merasa dipaksa.

Ada beberapa contoh komunikasi efektif yang bisa kita terapkan pada anak-anak kita.

Contoh 1: Menceritakan pengalaman pribadi, bukan menyalahkan

Anak kita berangkat sekolah dengan terburu-buru dan buku PR-nya ketinggalan sehingga ia mendapat teguran dari Guru Kelas.

Daripada kita menyalahkannya dengan kalimat, misalnya, “Makanya tas itu diperiksa dulu sebelum berangkat. Jangan malas.”,

Akan jauh lebih efektif jika kita mengatakan, “Ayah dulu juga pernah ketinggalan buku PR. Takut banget waktu ditanya guru. Makanya kemudian ayah selalu memeriksa tas sebelum berangkat.”

Contoh 2: Mengamati, bukan menginterogasi

Entah karena alasan apa, bekal yang sudah kita bawakan untuk anak-anak ternyata masih tersisa banyak.

Orangtua yang terbiasa menerapkan pola komunikasi tidak efektif akan langsung bertanya dengan nada interogasi.

“Kenapa bekalnya tidak dihabiskan? Kenyang? Gak suka?”

Anak-anak yang merasa dicecar pertanyaan seperti ini biasanya akan memilih aman dengan menjawab sekenanya, atau bahkan berbohong.

Tapi akan berbeda hasilnya jika kita menerapkan komunikasi yang efektif.

Katakan saja begini, “Ibu lihat kotak bekalnya tadi sisanya masih banyak.”

Maka anak akan menjawab dengan lebih tenang dan jujur.

Contoh 3: Menunjukkan empati, bukan menolak alasan

Sepulang sekolah kita mau mengajak anak-anak keluar untuk suatu urusan. Karena masih lelah anak-anak menolak.

Jika kita mengatakan kepada mereka, “Masak sih gitu aja capek? Kan cuma sebentar doang!”,

maka mungkin anak-anak akan ikut keluar tapi dengan perasaan yang terpaksa.

Orangtua sebaiknya tidak egois. Kita bisa bertanya dahulu kepada mereka,

“Masih capek ya? Apa yang paling bikin capek hari ini?”

Contoh 4: Memberi pilihan, bukan perintah

Anak-anak sudah saatnya mandi, namun mereka masih sibuk dengan buku bacaan mereka.

Maka kita bisa memberi mereka pilihan yang membuat mereka berpikir ulang untuk melanjutkan kegiatannnya.

“Satu jam lagi mobil antar jemputnya datang. Kakak mau menyelesaikan membaca baru mandi, atau mandi dulu baru melanjutkan membaca dengan tenang?”

Daripada memberi perintah “Mandi sekarang!”, maka memberikan pilihan kepada anak-anak dapat membuat mereka berpikir dengan lebih bijak.

Semoga bermanfaat!