Cara Menghindarkan Anak dari Bahaya Pedofilia

2
418

Assalamu’alaikum Ayah dan Bunda.

Maraknya berita mengenai jaringan pedofilia di media sosial tentu membuat kita sebagai orang tua merasa khawatir. Terkadang terpikir untuk selalu berada disamping si Kecil 24 jam per hari selama 7 hari penuh tentunya ya. Tapi ini tentu adalah hal yang mustahil. Apalagi jika si Kecil telah masuk usia sekolah atau malah telah sibuk dengan berbagai aktivitasnya di sekolah.

Lalu, apa yang perlu kita siapkan untuk membentengi anak dari bahaya pedofilia yang menjadi kekhawatiran semua orang tua ini? Sebelum kita membahas tentang langkah apa yang bisa kita terapkan pada anak untuk tindakan preventif, mari kita mengenal terlebih dahulu apa itu pedofilia.

Menurut kamus kesehatan, pedofilia adalah aktivitas seksual yang melibatkan anak kecil, umumnya di bawah 13 tahun. Penderita pedofilia berusia lebih dari 16 tahun dan minimal lima tahun lebih tua dari si anak. Individu dengan gangguan ini dapat tertarik pada anak laki-laki, perempuan, dan/atau keduanya.

Pedofilia merupakan orientasi seksual yang sulit diubah. Bagi individu dengan orientasi seksual ini jika ingin berubah, perlu melibatkan banyak pihak dan niat yang besar untuk melawan dorongan seksualnya.

Dalam beberapa penelitian, insiden aktivitas pedofilia hampir dua kali lebih mungkin diulang oleh orang-orang yang tertarik pada laki-laki. Namun, bukan berarti anak perempuan lebih aman dari pelaku pedofilia. Individu yang memiliki gangguan ini mengembangkan prosedur dan strateginya untuk mendapat akses dan kepercayaan dari anak-anak.

  1. Pendidikan seks usia dini

Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa salah satu penyebab anak menjadi korban pelecehan seksual adalah karena orang tua tidak memberikan pendidikan seksual sejak dini. Memang di Indonesia, berbicara tentang seksualitas masih banyak dianggap tabu. Padahal tidak ada yang tabu dengan pendidikan seks.

Hanya saja, Ayah dan Bunda perlu memperhatikan tingkatan usia dan pemahaman anak dalam memberikan pendidikan seks. Untuk pendidikan seks usia dini, ajak anak untuk mengenali bagian-bagian tubuh mereka. Ajarkan pada mereka bahwa ada bagian-bagian privasi (pribadi) yang tidak boleh disentuh oleh siapapun, kecuali Ayah dan Bunda mereka dengan seijin mereka.

Biasakan untuk menyebut setiap bagian tubuh mereka sesuai dengan namanya, termasuk penis, payudara, pantat (bokong), dan vagina. Menyebut “penis” dengan kata “burung” untuk mereka, hanya akan membuatnya bingung.

Pastikan anak paham apabila ada yang ingin menyentuh setiap daerah pribadi mereka, harus ada Ayah dan Bunda disamping mereka.  Termasuk ketika dokter akan memeriksanya.

  1. Mengenalkan “rasa malu” sejak dini

Mengajari anak untuk peka dan mengenalkan rasa malu sejak dini, baik untuk pengetahuan anak. Jika anak sudah dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri, ajari mereka untuk mengenal rasa malu. Misalnya jika anak perempuan, mandi hanya boleh dimandikan oleh Bunda. Ia boleh malu jika Ayahnya yang memandikan. Begitu juga sebaliknya.

Selain itu, hindari mengenakan pakaian yang terbuka dikenakan oleh anak. Ajari mereka untuk belajar menutup aurat, tentu akan lebih baik.

  1. Ajarkan untuk berani menolak

Biasakan anak untuk menolak jika apa yang diinginkan orang lain terhadapnya membuatnya tak nyaman. Hindari memaksakan kehendak Ayah dan Bunda sehingga anak tidak terbiasa untuk melakukan penolakan. Berikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapatnya. Dengarkan pendapat mereka.

Jika memang yang diinginkan Ayah dan Bunda adalah mutlak untuk kebaikan mereka, misalnya meminta anak untuk belajar mengaji, lalu si anak menolak dan ia menyampaikan keberatannya. Dengarkan. Jika itu hanya alasan si Kecil dan menunjukkan kemalasannya, Ayah dan Bunda bisa memberikan pengertian padanya bahwa apa yang diinginkan si anak kurang baik.

Mengajarkan anak untuk berani menolak adalah untuk melatih anak jika ada orang asing yang memintanya melakukan sesuatu atau akan melakukan sesuatu pada si anak, anak dapat menolaknya.

  1. Ciptakan Kedekatan

Terbuka dengan anak adalah poin pentingnya. Sehingga anak terbiasa berargumen, bercerita, berpendapat, dan menolak jika ada orang asing membujuknya melakukan sesuatu. Biasakan untuk mendengarkan cerita anak. Jika Ayah dan Bunda bekerja seharian, kegiatan bercerita tentang aktivitas anak ini bisa dilakukan sambil sarapan pagi atau saat persiapan berangkat ke sekolah.

Membiasakan anak bercerita tentang aktivitasnya, pengalamannya, dan apapun yang terjadi dengannya di sekolah akan mencipatakan kedekatan dengan Ayah dan Bunda. Sehingga jika terjadi hal-hal yang diluar kewajaran, Ayah dan Bunda dapat cepat mengetahuinya.

  1. Pentingnya literasi media

Jika anak memiliki akun sosial media, baik yang dikelola oleh orang tua atau anak sendiri (jika anak telah berumur 13 tahun), Ayah dan Bunda perlu bijak untuk memilih foto dan informasi pribadi yang berkaitan dengan anak. Untuk anak yang sudah masuk usia sekolah, biasakan untuk melibatkan anak jika ingin menggunggah foto dirinya di media sosial. Ini untuk mengasah logika berpikir mereka sejak dini.

Apakah mereka nyaman atau kurang nyaman ketika foto tersebut dilihat oleh orang lain adalah salah satu cara melibatkan anak. Maka dari itu mengajari mereka untuk memahami mana yang bisa merugikan dirinya baik secara langsung atau tidak, penting bagi mereka.

Seringkali dilalaikan orang tua adalah foto anak dengan seragam sekolah atau latar belakang yang memuat informasi sekolah, tempat tinggal, dan lainnya. Kadang karena melihat lucunya foto anak dengan seragam sekolahnya, kita mengunggahnya ke media sosial. Atau si Kecil sedang berfoto di depan pagar sekolah dengan informasi nama dan alamat sekolahnya terekam dalam foto.

Selain foto, informasi seperti alamat tinggal, tempat yang sering dikunjungi anak, ataupun keterangan di mana anak berada saat itu (check in) lebih baik untuk tidak dipublikasikan di media sosial. Baik personal kita atau akun anak. Meskipun akun kita telah diprivat, tapi kita perlu ingat bahwa masing-masing pengelola media sosial memiliki kebijakan dan batasan terkait privasi pengguna. Ajarkan juga pada mereka, informasi seperti ini adalah milik pribadi anak, dan bisa mengundang kejahatan jika disebarluaskan.

  1. Tumbuhkan disiplin anak tanpa ancaman dan iming-iming

Kadang kita berpikir untuk membiasakan anak melakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah dengan iming-iming atau ancaman. Ternyata jika ini menjadi kebiasaan bagi anak, justru akan membahayakan mereka. Individu yang memiliki orientasi seksual pedofilia biasanya akan menarik perhatian anak dengan iming-iming jika anak mau menuruti kemauannya atau justru ancaman jika si anak dirasa membayakannya. Jika dibiasakan dengan iming-iming sesuatu, anak akan sulit menolak saat ia mendapat iming-iming sesuatu.

Oleh sebab itu menumbuhkan disiplin bagi anak adalah hal yang penting. Namun, perlu digarisbawahi bahwa menumbuhkan disiplin tak perlu dengan mengancam anak atau menjanjikan sesuatu pada anak. Yang diperlukan adalah mengajari mereka untuk memahami maksud dan tujuan dari apa yang harus dan tidak harus dilakukannya.

Beberapa kasus meneyebutkan bahwa pedofilia lebih sering dilakukan oleh kerabat dekat atau orang yang telah mengenal dekat dengan anak. Oleh sebab itu, membentengi anak dengan hal-hal baik untuk menghindarkannya dari bahaya pelaku pedofilia perlu dibiasakan pada anak sejak dini. Sebagai orang tua, kita juga tentu perlu waspada dan mengetahui dengan pasti apa dan di mana anak berada. Apalagi jika Ayah dan Bunda bekerja seharian di luar rumah. Pastikan bahwa anak mendapat pengawasan yang cukup dari orang dewasa.

Semoga keluarga dan anak-anak kita selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT. Aamiin.

 

Sumber:

http://kamuskesehatan.com/arti/pedofilia/

2 COMMENTS

  1. Wa’alaikumsalam Warahmatullahi wabarokaatuh

    Aamiin, terimkasih banyak ilmunya sangat bermanfaat, zaman sekarang punya anak laki-laki maupun perempuan sama2 harus selalu diawasi ?, Bismillah ya Allah semoga saya dan suami dapat mendidik dan membimbing amanahMu dengan sebaik-baiknya Aamiin ?