Ensepalitis Jepang Menyerang, Waspadai Gigitan Nyamuk Pada Anak

3
214

Assalamu’alaikum Ayah dan Bunda,

Tentu masih ingat, beberapa waktu lalu publik khususnya para calon orang tua dibuat cemas dengan serangan virus Zika. Pasalnya virus yang ditularkan melalui nyamuk genus Aedes ini dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran bayi. Virus ini dikaitkan dengan meningkatnya resiko kelahiran bayi mikrosefali yaitu tempurung kepala bayi yang lebih kecil dari normal dan perkembangan otak yang tidak lengkap.

Nyamuk sepertinya menjadi serangga yang paling sering menjadi tunggangan berbagai penyakit. Setelah kekhawatiran terhadap virus Zika mereda, kali ini publik pantas khawatir dengan merebaknya kembali virus Ensepalitis Jepang atau Japanese Encephalitis (JE).

Ensepalitis Jepang adalah penyakit akut radang otak disebabkan oleh virus Japanese Encepalitis. Penyakit ini merupakan penyakit endemik masyarakat di Asia termasuk Indonesia. Penyakit ini pertama kali menginfeksi di Jepang pada 1871. Di Indonesia, virus ini pertama kali ditemukan menginfeksi pada 1972 di Bekasi, Jawa Barat.

Setiap tahunnya diperkirakan ada 35.000 kasus di Asia dengan angka kematian 20 – 30 %. Dari semua kasus JE paling banyak menginfeksi anak usia di bawah 15 tahun. Pada 2016, di Indonesia dilaporkan ada 326 kasus JE dan yang terbanyak terjadi di Provinsi Bali yakni 226 kasus. Beberapa penelitian termasuk edaran dari Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa persebaran penyakit ini banyak dijumpai di daerah yang banyak persawahan, rawa, dan genangan air.
Pada hewan, serangan virus JE dapat menimbulkan abortus, meninggal, atau tanpa gejala. Virus dapat bereplikasi di dalam darah hewan. Namun, tidak memungkinkan terjadi penularan dari hewan ke manusia. Penularan virus saat ini hanya diyakin dari nyamuk sebagai inangnya.

Sedangkan pada manusia dapat menimbulkan gejala ringan seperti flu, demam biasa. Namun pada kasus berat ini dapat menimbulkan kematian. Pada kasus lain, virus JE menimbulkan gejala sisa (40 – 75%) seperti kelumpuhan dan keterbelakangan mental/penurunan kecerdasan inteligensia. Sekitar 1 dari 200 penderita yang terinfeksi JE menunjukkan gejala berat yang berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis) seperti koma, kejang, hingga kelumpuhan.

Untuk menetapkan diagnosis apakah anak terjangkit virus JE harus dilakukan dengan melakukan pemeriksaan fisik atas gejala serta uji klinis di laboratorium khusus. Menurut edaran Kemenkes bahwa belum ditemukan antivirus JE sehingga belum ditemukan obat untuk mengatasi infeksinya penyakit ini. Pasien perlu dirawat inap supaya dapat diobservasi dengan ketat dan penanganan yang tepat terhadap gejala yang timbul.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati

Untuk pencegahan, beberapa negara seperti Thailand, China, Nepal, India, dan Jepang menjadikan imunisasi JE sebagai salah satu program imunisasi rutin. Di Indonesia sendiri, pada September 2017 mendatang, Kemenkes berencana akan mulai mengkampanyekan imunisasi JE khususnya mulai dari wilayah Bali.

Nah, Ayah dan Bunda saat musim pancaroba seperti sekarang ini, perlu kiranya untuk lebih waspada terhadap gigitan nyamuk pada sang Buah Hati. Penting juga untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk seperti menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, menutup, membuang, atau mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, sering menguras bak kamar mandi, beri perhatian lebih pada pot tanaman, kolam ikan, dan sebagainya agar tidak menjadi tempat nyamuk bertelur.

Sumber:
http://www.depkes.go.id
http://www.kalbemed.com

3 COMMENTS

  1. Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakaatuh… Iya betul sempat khawatir banget waktu itu karena waktu itu saya juga sedang dalam kondisi hamil. Alhamdulillah tapi Allah selalu melindungi dan kita pun berikhtiar agar tidak ada tempat yang bisa dijadikan sarang nyamuk sehingga saya dan keluarga aman.