Hai Ayah-Bunda, Jangan Lahirkan Generasi Pembohong!

6
568

Berbohong. Ini memang hal yang paling ringan sekali dilakukan banyak orangtua dalam pengasuhan, terutama para Bunda yang interaksinya lebih intens dengan anak-anak di rumah. Mungkin kita pernah mendengar tetangga kita sering menakut-nakuti anak mereka dengan kata-kata yang mengandung kebohongan sekaligus aneh. Siapa sangka ternyata kata-kata itu bisa berbuah fatal bagi perkembangan anak mereka karena ketika dewasa mereka menjadi generasi pembohong dan tidak percaya diri.

Ketika anak tidak mau makan, para orangtua seringkali berkata, “Ayo makan nak, nanti makanannya diambil kucing loh…” Ketika anak belum mau pulang ke rumah, masih ingin bermain, “Ayo cepat-cepat pulang, nanti kamu didatangin badut, loh.” Ketika anak tidak mau minum obat yang rasanya pahit sekali, “Ayo minum obatnya, enak kok, tidak pahit”. Ketika anak belum mau tidur ditakut-takuti, “Cepat tidur, sudah malam, nanti kamu didatangin pocong, mau?” Begitual kira-kira kata-kata yang memang terdengar sangat menakutkan bagi anak.

Semua orangtua pasti tahu bahwa kata-kata yang mereka lontarkan itu bukanlah kata-kata yang bermakna sebenarnya, itu hanya sekedar usaha mereka yang bertujuan agar anak-anak mereka mau mengikuti kata orangtua. Dengan kata-kata yang berbumbu ancaman tersebut pastilah semua anak-anak akan takut dan mengikuti kata orangtuanya.

Tapi, kita semua harus mengakui bahwa mengucapkan kata-kata seperti di atas kepada anak sama artinya mengajarkan anak kita tentang bagaimana cara berbohong dan melunturkan kepercayaan diri. Apabila ini dilakukan secara terus-menerus akan terbentuk menjadi karakter dan pribadi yang akan merusak dirinya sendiri dan orang lain.

Lahirnya Generasi Pembohong

Semua anak-anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci tanpa noda. Lalu ia tumbuh besar dan dibentuk di lingkungan dimana mereka diasuh. Anak-anak meniru apa yang ia lihat dan mengucapkan apa yang terdengar oleh telinganya. Kalau istilah kerennya pada masa usia 0-6 tahun adalah masa Golden Age anak-anak. Pada masa inilah dasar dibentuknya karakter, kepribadian dan kemampuan kognitif mereka.

Pada masa Golden Age ini mulai dibentuk berbagai macam jenis anak, ada yang menjadi anak yang baik, pemarah, penyayang, pemaaf, suka musik, suka berhitung, dan lain-lain. Pada masa ini juga anak-anak belajar menjadi orang jujur atau menjadi tukang bohong.

Nah, apabila di rentan usia 0-6 tahun ini kita sudah memberikan kepada mereka materi-materi kebohongan dan ancaman seperti yang saya jelaskan di atas tadi, “Ayo makan nak, nanti makanannya diambil kucing loh…” Apabila hal ini dilakukan terus menerus setiap waktu, maka, tidak diragukan lagi hasilnya adalah akan lahir anak-anak yang tidak percaya diri, sulit menemukan jati diri, dan piawai dalam bermain kata-kata alias menjadi pembohong besar.

Lihatlah fenomena pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini. Tradisi mencontek masih saja menjadi semacam kewajiban di hampir semua sekolah negeri dan swatsa di tanah air. Siswa saling contek-mencontek, guru membiarkan saja. Bahkan seperti kejadian di SDN Kendal guru sampai-sampai mengajarkan kepada siswanya bagaimana trik mencontek dengan licik. Ini adalah salah satu wujud nyata dari pembelajaran pembohongan yang pernah kita ajarkan kepada anak-anak kita pada saat mereka usia Golden Age. Hasilnya di sekolah mereka berani mempraktekkan kebohonang-kebohongannya denga liar dan menjadi tidak percaya diri dengan kemampuan diri mereka sendiri.

Lihat juga mereka puluhan tokoh-tokoh politik nasional dan para pejabat daerah yang beberapa bulan ini terjaring borgol Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka sudah dipercayai oleh masyarakat, tapi karena rekam jejak kebohongannya baru diungkap, maka ramailah jeruji besi rutan KPK saat ini diisi oleh para pejabat yang sudah melakukan kebohongan yang besar.

Indonesia saat ini tidak sedang dijajah oleh Bangsa lain, tapi sedang dijajah oleh karakter bangsanya sendiri. Karakter pembohong, lahirlah budaya suap, tip siluman, minta jatah dan lain-lain. Saya kira apa yang kita lihat hari ini adalah murni merupakan kesalahan didik orangtua pada masa lalu dan lingkungan yang tidak mendukung untuk melakukan perubahan baik. Indonesia sedang dijajah oleh kebohongan demi kebohongan yang menakut-nakuti, sehingga banyak generi bangsa sulit menemukan jati diri, terombang-ambing ke sana kemari dan selalu melakukan kebohongan dimana-mana.

Mulai sekarang kita bisa ubah ketika anak tidak mau makan, para orangtua bisa berkata, “Ayo makan nak, biar badan kamu kuat seperti Superman…” Ketika anak belum mau pulang ke rumah, masih ingin bermain, “Ayo cepat-cepat pulang, besok pasti Bunda ajak main ke sini lagi.” Ketika anak tidak mau minum obat yang rasanya pahit sekali, “Ayo minum obatnya, biar batuknya hilang, kamu sehat.”. Ketika anak belum mau tidur jangan ditakut-takuti, bacakan sebuah cerita menarik, “Sini, Bunda bacakan satu cerita menarik, mau?” Atau Ayah Bunda bisa mencari kata-kata lain yang lebih ampuh agar tidak terjebak ke dalam kebohongan.

Segera Tunaikan Janji, Bangun Kepercayaan Anak

Dalam kegiatan lain mungkin Ayah Bunda seringkali melontarkan janji-janji kepada anak, saat dia melakukan sebuah kebaikan atau meraih prestasi, namun sampai hari ini janji itu belum juga ditepati sampai-sampai kita lupa dengan janji tersebut. Artinya Ayah Bunda sudah berbohong pada anak. Dampak yang terjadi tidak langsung terlihat tapi akan mempengaruhi psikologis anak.

Sistem mendidik anak dengan reward seperti ini sebenarnya sangat bagus, namun akan menjadi cacat apabila kita sering menunda-nunda memberikannya. Nanti dulu. Tunggu dulu. Atau alasan apalagi yang bisa kita katakan. Maka, anak tidak akan respect lagi dengan kita dan bahkan bisa jadi berbalik arah menjadi pemarah dengan kita.

Kalau mengutip kata-kata psikolog Jodie Benveniste, “Ketika kita menepati janji dengan anak kita, kita membantu mereka mengembangkan pemahaan tentang kepercayaan dan bisa menghormati orang lain. Sebagai orang tua, kita juga bisa memproyeksikan bahwa kita ini sosok yang jujur dan bisa dipercaya, itu membantu menciptakan rasa aman bagi anak-anak.”

Nah, ketika kita mampu menepati janji, maka rasa kepercayaan anak akan semakin meningkat dan ia bisa belajar bagaimana menghormati orang lain. Namun ketika orangtua mulai menunda-nunda hadiah maka saat itu pula kepercayaan anak terhadap orangtuanya menghilang. Kebiasaan ini akan ditiru oleh anak dan menganggap itu bukan sebagai kesalahan hingga ia dewasa. Anak akan menjadi pembohong.

 

6 COMMENTS

  1. Benar Bang, seringkali kita tidak sengaja mengajarkan kebohongan, tapi kita tidak merasa. Misalnya : jangan nangis nanti ada orang gila datang, ayo dihabisin makannya kalau tidak habis nanti ayamnya mati, dll. Walau itu tujuannya baik, tapi pernyataan itu belum tentu benar kan? alias berbohong.

  2. Iya betapa bahayanya bohong itu sehingga rosul saw melarang berbohong meskipun bercanda..“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad)

    Semoga kita selalu ada dlm bimbingan Alloh swt dalam mendidik amanah yg telah Ia titipkan pada kita semua.. ?