Kenali Difteri dan Cegah Penyebarannya

1
1059

Beberapa waktu ini, wabah difteri kembali merebak di beberapa daerah di Indonesia. Data Kementrian Kesehatan menunjukan bahwa 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan terjangkitnya penyakit ini hingga November 2017.

Penyakit ini merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan bagian atas yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae. Penyakit ini bisa sangat cepat menular dan berbahaya karena penularannya melalui udara, baik lewat bersin, batuk, makan dan minum dari tempat yang sama, dan sebagainya. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Difteri tak mengenal usia. Ia bisa menyerang anak-anak dan juga orang dewasa. Gejala akan timbul setelah 2-4 hari setelah terinfeksi bakteri. Gejala dan tanda infeksi difteri antara lain:

  • Demam tinggi, lebih dari 39°C
  • Hidung berair tapi bukan karena flu
  • Sakit saat menelan makanan atau minuman
  • sakit tenggorokan dan obstruksi tenggorokan
  • Pusing
  • Tampak selaput berwarna keabu-abuan pada dinding belakang tenggorokan
  • Sulit bernafas
  • Bengkak pada leher
  • Detak jantung meningkat
  • Kelenjar getah bening membesar
  • Gagal jantung
  • Kelumpuhan otot
  • Difteri dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul

Pencegahan penyakit difteri

Di rumah sakit, pasien suspect (yang diduga) difteri akan ditempatkan pada ruang isolasi untuk menghindari penyebaran.  Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit difteri antara lain:

  • Imunisasi
  • hindari kontak langsung dengan penderita
  • jaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar
  • perkuat sistem kekebalan tubuh
  • lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Sudah imunisasi, masih bisa terserang difteri?

Menurut Kementrian Kesehatan, tidak ada upaya yang lebih efektif dalam mencegah terjadinya difteri selain imunisasi. Menurutnya, daerah dengan penduduk yang menerima imunisasi difteri tidak lengkap dilaporkan dengan kasus difteri lebih tinggi dibanding dengan daerah yang penduduknya menerima imunisasi difteri lengkap.

Untuk imunisasi, ahli kesehatan dari Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat, Dr dr Masrul menyebutkan bahwa seorang anak usia 5 tahun secara lengkap harusnya menerima 5 kali vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Yakni saat usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan 4-5 tahun. Lalu, untuk anak usia di atas 7 tahun diberikan vaksin Td/Tdap yang harus diulang setiap 10 tahun sekali.

Nah, kekebalan difteri tidak seumur hidup, oleh sebab itu imunisasi difteri perlu diulang 10 tahun sekali. Banyak yang mempertanyakan efektifitas vaksin difteri karena beberapa yang telah diiminusiasi namun masih terserang difteri. Beberapa ahli menegaskan bahwa korban yang terserang difteri padahal ia telah menerima vaksin dikarenakan vaksin yang diterimanya tidak lengkap.