Kenali Penyebab Diare Untuk Cegah Anak Dari Penyakit Ini

4
3150

Anak-anak sangat rentan menderita diare, di mana feses yang dikeluarkan encer atau berarir dengan frekuensi yang lebih sering dari biasanya. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, diare masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar. Data dari Kementrian Kesehatan RI menyebutkan hampir setiap tahun, orang dewasa rata-rata mengalami diare hingga dua kali. Kelompok usia yang paling banyak mengalami diare adalah balita, sekitar 16.7%.

Sebenarnya diare dapat sembuh dalam 2-4 hari tanpa pemberian obat-obatan apapun. Namun, penyakit ini tak jarang juga menyebabkan kematian. Diare menempati posisi 3.5% penyebab kematian secara umum di Indonesia. Perlu untuk diwaspadi dan menjadi biang dari kondisi fatal akibat diare yaitu diare berhubungan erat dengan dehidrasi.

Dehidrasi lebih mudah terjadi pada anak-anak, karena ketahanan tubuh mereka lebih rendah dibanding orang dewasa. Jika anak-anak mengalami hal sepert:

  • jarang buang air kecil,
  • mulut kering
  • tidak mengeluarkan air mata saat menangis
  • terlihat sering mengantuk dan tidak responsif
  • terlihat cekung di mata dan perut

Maka, Ayah dan Bunda perlu segera membawanya ke tenaga medis untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.

Penyebab diare

Biasanya penyakit ini merupakan tanda infeksi pada usus. Ini dapat disebabkan oleh:

a. virus, seperti rotavirus

Infeksi rotavirus menyebabkan bayi dan anak diare berat yang disertai muntah. Virus ini merusak usus kecil dan juga sangat menular. Mayoritas infeksi rotavirus menyerang anak yang berusia kurang dari 2 tahun.  Dan hampir sebagian besar anak-anak pernah teriveksi oleh virus ini.

Sebelum ditemukan vaksin rotavirus, infeksi penyakit ini menyebabkan lebih dari setengah juta anak meninggal pada setiap tahunnya. Maka dari itu, Ayah dan Bunda perlu mewaspadai penjangkitan virus ini pada anak dan balita.

Rotavirus dapat menyebar dengan mudah  melalui tangan dan mulut. Anak-anak yang menyentuh benda yang terkontaminasi seperti mainan, perabotan, dan mainan. Infeksi rotavirus biasanya sangat cepat menjalar di tempat penitipan anak dan rumah sakit anak.

b. Bakteri, seperti campylobacter

Bakteri campylobacter menginfeksi saluran pencernaan. Jika terinfeksi bakteri ini, dapat menyebabkan diare yang berair hingga berdarah. Gejala terinfeksi bakteri ini selain diare, biasanya penderita juga mengalami kram perut dan demam hingga 37.8 – 40%. Kadang infeksi bakteri ini dapat menyerang katup jantung dan selaput otak serta medulla spinalis (meningitis).

Bakteri campylobacter biasanya menjadi penghuni saluran cerna hewan ternak seperti sapi, unggas, kambing, domba, dan sebagainya. Hasil survei menyebutkan bahwa 20 – 100% ayam mentah yang dijual eceran terkontaminasi oleh bakteri ini.

Oleh sebab itu perlu untuk memasak dengan matang daging mentah untuk mengurangi resiko kontaminasi dari bakteri ini. Resiko kontaminasi yang paling besar yaitu kontaminasi silang, misal apabila makanan yang sudah dimasak, bersentuhan dengan bahan mentah yang terkontaminasi bakteri ini atau peralatan yang terkontaminasi, misalnya pisau dan talenan yang digunakan untuk memotong daging.

Selain makanan, air juga dapat terkontaminasi oleh bakteri campylobacter yang dapat menyebabkan bakteri.

c. parasit, seperti giardia intestinalis

Parasit jenis giardia banyak ditemukan pada daerah bersanitas rendah atau memiliki kualitas air yang tidak baik. Biasanya parasit ini juga dapat ditemukan pada air danau, kolam renang, sumur, tempat spa, taman hiburan, hingga penampungan air. Selain pada air, parasit ini juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi dan juga kontak antar individu.

Diare yang biasanya disebabkan oleh parasit ini berbentuk diare yang berlemak, disertai kram perut, kembung, dan mual.

Makanan yang perlu dihindari saat anak diare

  1. Susu

Susu dan produk turunannnya seperti keju, yoghurt, serta es krim perlu dihindari terlebih dahulu selama anak diare. Produk susu membuat usus bekerja lebih berat karena mengandung laktosa dan lemak. Hal ini dikhawatirkan akan memperburuk diare.

  1. Pemanis buatan

Makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan juga perlu untuk tidak diberikan pada anak. Ini sebenernya berlaku juga untuk anak bahkan saat atau tidak sedang diare.

  1. Buah dengan tingkat keasaman tinggi

Jika Bunda biasa memberikan buah-buah sebagai cemilan anak, maka hindari memberikan nanas, anggur, kismis, serta perasan jeruk terlebih dahulu. Buah-buahin semacam ini mengandung fruktosa yang bisa mengakibatkan feses menjadi lunak karena malabsorpsi fruktosa.

  1. Makanan berserat

Sayuran yang tinggi serat lebih baik tidak diberikan terlebih dahulu pada anak. Beberapa jenis sayauran ini seperti brokoli, kembang kol, dan kubis. Selain tinggi serat, sayuran tersebut juga menyebabkan perut kembung karena mengandung gas.

Nah, ayo Bunda jaga lingkungan dan makanan si Kecil, agar mereka terhindar dari penyakit diare. Selain makanan dan lingkungan, penyebab lainnya ada faktor psikologis (merasa cemas), alergi makanan, usus buntu, atau efek samping dari obat-obatan yang sedang dikonsumsi.