Berbagi Cerita Tentang Kisah Buhlul dan Harun al-Rasyid

2
231

Buhlul adalah salah seorang kerabat khalifah Harun al-Rasyid. Ia seorang yang berilmu dan memiliki keutamaan dalam agama. Suatu hari, ketika ia sedang asyik bermain bersama anak-anak, Harun al-Rasyid memanggilnya dan berkata, “Apa yang engkau lakukan?”

“Saya bermain bersama anak-anak dan membuat sebuah rumah dari tanah liat,”

Mendengar itu, Harun al-Rasyid berkata, “Engkau sangat mengherankan. Engkau tinggalkan dunia beserta isinya.”

Buhlul menjawab, “Justru engkau yang sangat mengherankan. Engkau tinggalkan akhirat beserta isinya.”

Apa yang bisa kita petik dari sepenggal kisah tersebut? Ada dua pernyataan yang bertolak belakang antara pernyataan Buhlul dan Harun al-Rasyid. Menurut Harun-al-Rasyid, kegiatan Buhlul bermain bersama anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan dunia. Sedangkan menurut Buhlul kegiatannya tersebut bisa mendapatkan kehidupan akhirat. Manakah yang paling tepat?

Tanpa bermaksud memojokkan pendapat khalifah Harun al-Rasyid, menurut  saya pendapat yang lebih tepat adalah pendapat Buhlul. Kita bermain dengan anak, menyayangi mereka, bercanda, bermain, membuat rumah-rumahan dari tanah liat adalah untuk mendapatkan akhirat dan seisinya. Dengan terpenuhinya kebutuhan psikis mereka diharapkan mereka akan tumbuh sebagai pribadi yang kokoh. Sehingga pada akhirnya, mereka dapat menjalankan perannya sebagai khalifatul ardh dengan bertaqwa, amar ma’ruf, dan nahyi munkar.

Terdapat dua titik berat dalam kisah ini. Pertama, peran seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Anggapan yang terlanjur berkembang dalam masyarakat kita, bahwa peran seorang ayah dalam keluarga hanyalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan material keluarga. Hal ini berimbas pada perilakunya yang seakan jauh dari anak, jarang bermain dengan anak, apalagi memeluk atau menciumi mereka. Mereka punya anggapan bahwa mereka harus terlihat berwibawa sehingga anak mematuhi keinginannya. Walaupun tidak semua ayah berperilaku demikian.

Padahal penelitian-penelitian psikologi menunjukkan, masked-deprivation atau kelaparan terselubung terhadap kasih sayang seorang ayah cenderung melahirkan anak-anak yang menderita kecemasan, menimbulkan rasa tidak tenteram, rendah diri, kesepian (meski di di tengah kerumunan orang banyak), agresivitas, negativisme (kecenderungan melawan orang tua), serta berbagai kelemahan mental lainnya. Na’udzu billahi min dzalik.

Padahal teladan kita sebagai seorang muslim, Rasulullah SAW banyak memberi penjelasan dalam hal mendidik anak dalam hadits-haditsnya. Banyak riwatyat yang menerangkan kedekatan beliau dengan putrinya Fathimah dan cucunya, Hasan dan Husain. Beliau tidak segan-segan mencium putrinya. Beliau pun tidak pernah marah ketika cucu-cucunya menaiki punggungnya ketika beliau tengah melaksanakan shalt.

Kedua, dalam hal permainan edukatif, ternyata dari dulu hingga sekarang bermain dengan tanah liat diyakini lebih efektif dalam meningkatkan kreativitas anak. Tidak perlu takut kotor, ayah bunda. Bahkan sekarang permainan tersebut banyak dikreasikan menjadi pasir berwarna atau sejenisnya.

Mudah-mudahan bermanfaat, wallahu a’lam.