Kisah Burung Ababil, Sang Pembawa Batu dari Neraka

3
524

Pada tahun 570 Masehi hiduplah seorang raja yang terkenal keras dan kejam bernama Al-Asyram Al-Habsy atau lebih dikenal Abrahah. Ia adalah seorang penguasa dari Ethiopia yang kemudian berhasil menaklukkan negeri Yaman. Abrahah adalah sosok raja yang sangat tidak percaya dengan keberadaan Allah Swt. Berkali-kali Abdul Muthallib mengajaknya untuk menyembah Allah, namun ia menolak dengan keras.

“Wahai Abrahah, aku Abdul Muthallib pemimpin Mekkah. Mari beriman kepada Allah Swt, engkau akan mendapatkan apa yang engkau inginkan dan diangkat derajatmu di mata Allah Swt dan manusia.” Kata Abdul Muthallib.

“Hahaha… Lelucon apa yang engkau katakan itu wahai anak keturunan Qurays. Justru aku ingin mengajakmu dan seluruh bangsa Arab untuk ikut menyembah Tuhan yang aku sembah. Sudahlah terus-terusan menyembah kubus batu yang tidak berguna itu!” Ejek Abrahah.

Mendengar ucapan Abrahah Abdul Muthallib agak terpancing emosinya. Mukanya mulai memerah.

Abrahah ingin semua orang-orang Arab meninggalkan keyakinanya dan berpindah kepada Tuhan yang ia sembah, yaitu berhala. Di sana ia telah membangun sebuah tempat ibadah yang sangat mewah dan megah. Berhala-berhala besar menghiasi di sekeliling tempat ibadahnya. Ia memaksa seluruh kaumnya untuk beribadah dan mempercayai Tuhan yang ia sembah.

“Sekarang engkau pilih, bergabung bersama kami atau aku akan menghancurkan rumah sucimu itu dan rumah-rumah penduduk Qurays di Mekkah?” Tegas Abrahah.

“Maha Suci Allah yang maha menghidupkan dan mematikan. Aku lebih memilih mati syahid daripada ikut denganmu. Patung-patung yang engkau sembah itu justru tidak memberi faedah apa-apa untuk dirimu. Justru engkau sudah diperbudak oleh hawa nafsu syetan yang terkutut.” Jawab tegas Abdul Muthallib.

Abdul Muthallib pun berlalu meninggalkan Abrahah. Sementara Abrahah geram karena Tuhannya telah dihina oleh Abdul Muthallib.

Hari berlalu, bulan berganti. Pada kenyataannya banyak orang-orang Yaman lebih memilih mengunjungi ka’bah di Mekah daripada tempat ibadah yang dibangun oleh Abrahah. Kegeraman Abrahah makin memuncak hingga ia mengirim ribuan pasukan bergajah untuk menghancurkan ka’bah.

Pada suatu pagi kota Mekkah hening, seluruh masyarakat menjalankan aktivitas seperti biasa. Berbeda dengan Abdul Muthallib ia merasakan kegelisahan yang sangat aneh yang tidak ia ketahui dari mana asalnya. Ia berkali-kali menatap Ka’bah, menciumnya dan berdoa agar Allah Swt selalu menjaga tempat suci ini dari orang-orang jahat. Ia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi pada tempat suci itu.

Beberapa jam setelah itu tiba-tiba datang gemuruh suara gajah dan kaki-kaki kuda terdengar dari pintu gerbang kota Mekkah. Abdul Muthallib terperangah melihat Raja Abrahah dan ribuan pasukan bergajahnya mulai mendekat ingin menhancurkan Ka’bah.

“Ya Allah, lindungilah rumah suci ini. Hanya kepadamu kami memohon dan hanya kepadamu kami meminta pertolongan.”

Ketika bala tentara Abrahah sudah terlihat mendekat menuju Ka’bah Abdul Muthallib tertunduk lesu dan meneteskan air mata. Ia menyerahkan semuanya kepada Allah Swt. Ia tidak memiliki pasukan. Seluruh bangsa Arab sedang sibuk dengan dunianya masing-masing. Banyak diatara mereka sedang menyembah berhala, main judi dan asyik bermain-main dengan wanita pujaannya. Mereka tidak tahu bahwa nasib bangsa Qurays sedang diujung kematian.

Namun, Allah Swt berkehendak lain. Ketika pasukan Abrahah sudah mendekat tiba-tiba langit di sekitar Ka’bah menghitam kelam oleh burung-burung yang di paruhnya terdapat batu-batu yang membara dari Neraka Sijjil. Tidak lama kemudian burung-burung itu melemparkan batu tersebut ke hadapan pasukan Abrahah. Seketika pasukan Abrahah kocar-kacir mencari perlindungan, sementara api menyala dimana-mana. Dalam sekejap Raja Abrahah dan ribuan seluruh pasukannya hancur lebur seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Melihat kejadian itu Abdul Muthallib takjub dan tak henti-hentinya mengucap syukur. “Inilah pelajaran penting untuk anak cucuku nanti, bahwa melawan Allah Swt artinya menyiapkan kebinasaan.”

3 COMMENTS