Kisah Nabi Musa dan Tongkat Ajaib

2
252

Sewaktu masih muda, Nabi Musa a.s menjadi penggembala kambing milik Nabi Syu’aib di kota Madyan. Karena kepribadian yang mulia, Nabi Syu’aib kemudian menikahkan Nabi Musa a.s dengan putrinya, bernama Sufairoh.

Setelah menikah, Nabi Musa a.s kembali ke Mesir untuk berdakwah dengan memboyong istrinya. Di tengah perjalanan, Nabi Musa a.s sampai di bukit Thurisina saat malam.

Bukit itu puncaknya tampak bersinar seperti api yang menjilat–jilat. Nabi Musa a.s pun penasaran dan mendekat asal cahaya.

Cahaya itu ternyata berasal dari sebuah pohon. Ajaibnya, pohon tersebut tidak terbakar sama sekali. Nabi Musa a.s ketakutan dan perlahan mendekati api itu. Mendadak, terdengar suara yang misterius di sebelah kanan pohon Zaitun.

“Wahai Musa, sesungguhnya Akulah Alloh. Tuhan Semesta Alam. Kau berada di lembah suci Thuwa. Lepaskan terompahmu. Hari ini Aku mengangkatmu menjadi RasulKu. Karena itu dengarkan wahyu-Ku baik–baik.”

“Aku adalah Alloh. Tidak ada Tuhan selain Aku. Laksanakan perintah–perintah-Ku. Laksanakan sholat, supaya kamu selalu ingat Aku. Hari kiamat pasti terjadi. Aku menyembunyikan tanda–tandanya. Tiap – tiap jiwa pasti akan diminta pertanggung jawaban amal perbuatannya.  Jangan kamu bimbang tentang hal ini. Jangan sekali – kali kamu ikuti orang yang tak beriman. Sebab mereka akan mencelakaimu kelak.”

Dalam peristiwa ini, Alloh juga menyuruh Nabi Musa a.s untuk melemparkan tongkatnya. Seketika, tongkatnya menjadi ular besar hingga Nabi Musa a.s ketakutan.

Alloh berfirman, “ Hai Musa, datanglah kepada-Ku, dan janganlah engkau takut. Sesungguhnya orang yang menjadi utusan tidak perlu takut. Kamu adalah termasuk orang yang aman. Peganglah lagi, pasti (tongkatmu) akan berubah menjadi semula”

Benar saja, setelah Nabi Musa a.s memegang tongkatnya, ular itu berubah menjadi tongkat lagi.

Alloh juga meminta Nabi Musa a.s memasukkan tangan ke kerah bajunya. Saat Nabi Musa a.s melakukannya, seketika tangannya mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan.

“Sekarang, pergilah ke Mesir. Sesungguhnya Fir’aun telah melampaui batas. Maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu. Yang akan kau hadapkan pada Fir’aun dan pembesar – pembesarnya,”

Di Mesir, Fir’aun merupakan penguasa yang kejam. Tak segan membunuh dan menganiaya rakyat yang tidak mau menyembah dirinya sebagai Tuhan.

Fir’aun yang hanya manusia biasa berlaku sombong hanya karena memiliki kerajaan besar dan luas. Sehingga ia durhaka dan mengaku jika dirinya adalah Tuhan.

Nabi Musa a.s kemudian mendatangi Fir’aun untuk berdakwah dan menyembah Alloh. Tetapi, Fir’aun menolak hingga mengejar Nabi Musa a.s untuk dibinasakan.

Ketika sampai di Laut Merah, rombongan Nabi Musa a.s bisa berjalan melintasi Laut Merah yang terbelah. Tetapi, ketika bala tentara Fir’aun yang melintas, seketika Laut Merah kembali menyatu hingga tamatlah riwayat Fir’aun.

 

2 COMMENTS