Krisis Rohingya: PBB, ASEAN dan Indonesia Harus Ambil Tindakan Kongkrit

1
279

Sedih betul rasanya melihat tragedi Rohingya. Anak-anak diperlakukan seperti binatang, mereka dibantai di dalam rumah, di halaman, di tengah jalan, dan dibakar di dalam selokan dengan kondisi mengenaskan. Gambar-gambar itu bertebaran beberapa hari terakhir ini masuk ke grup-grup WhatsApp kita. Saya bisa pastikan itu bukan berita hoax. Itu benar-benar nyata terjadi di negeri yang tidak begitu jauh dari tanah air kita.

Apalagi setelah melihat video isak tangis pilu kiriman dari salah satu warga di sana. Air mata tak terasa sudah menggenang. Mereka diusir paksa dari rumah-rumah yang mereka tinggali selama bertahun-tahun, harta mereka dijarah, lalu rumah mereka dibakar hingga tidak tersisa satupun. Semua warga hanya bisa berteriak dan menangis tidak berani melawan. Karena melawan berarti akan mati.

Akhirnya ribuan warga Rohingya yang notabene menganut agama Islam itu terpaksa harus mengungsi ke dalam hutan hingga ke Bangladesh. Mereka membawa perlengkapan seadanya, bahkan banyak diantara mereka hanya membawa sehelai baju di badan. Mereka ketakutan, karena tentara Myanmar tidak segan-segan membunuh siapa saja yang berani melawan, tidak peduli wanita atau anak-anak.

Salah seorang warga Rohingya yang tinggal di Maungdaw, Rakhine, mengungkapkan bahwa desanya telah diserang tentara pada pagi Jumat pekan lalu. Mereka datang langsung menghujam tembakan yang bertubi-tubi ke arah warga. “Tentara pemerintah dan polisi perbatasan telah membunuh 11 orang di desa saya. Ketika mereka tiba, mereka mulai menembak semua yang bergerak. Beberapa tentara mengamuk melakukan pembakaran,” ujar Aziz Khan seperti dikutip media Al-Jazeera.

Kedua gambar diambil dari www.kumparan.com/Mohammad Ponir Hossain

Sudah lebih dari satu pekan kebrutalan ini sudah terjadi di Rohingya. Menurut aktivis pembela Rohingya korban tewas sudah lebih dari 800 orang. Jumlah ini boleh dibilang belum terkonfirmasi semua. Karena masih banyak orang yang kehilangan sanak saudara dan anak-anaknya.

Lebih dari 10 ribu orang sudah terusir dari rumah-rumah mereka. Sekitar 6.000 orang diantaranya tertahan di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, karena Pemerintah Bangladesh tidak membolehkan mereka masuk dan memulangkan mereka ke Myanmar. Mereka kini terkatung-katung hidup tanpa tempat tinggal, tanpa persedian pakaian dan makanan. Bahkan banyak diantara mereka terutama wanita dan anak-anak menemui ajalnya di tengah jalan. Astagfirullah.

PPB, Filipina dan Indonesia Harus Segera Ambil Tindakan Kongkrit

Dikutip dari berbagai media nasional dan internasional rupanya serangan yang mematikan ini merupakan mandat dari Pemerintah Aung San Suu Kyi. Ia mengirim tentara ke desa-desa di Rohingya dengan alasan untuk memberantas terorisme. Akan tetapi kejadian yang sebenarnya di lapangan ternyata sangat berbeda. Tentara Myanmar justru membakar hampir 1000 rumah warga dan tempat ibadah, serta membunuh warga sipil yang tidak bersalah.

Bahkan kabarnya kini mereka sudah mengepung wilayah Maungdaw dan Buthidaung serta menerapkan jam malam yang ketat dari pukul 6 sore sampai 6 pagi. Mereka juga menutup akses bagi para awak jurnalis untuk meliput dan tidak ada jalan bagi pengawas internasional untuk mengambil data dan fakta.

Atas dasar inilah, atas nama Hak Asasi Manusia dan kebebasan hidup beragama, kami berharap PBB harus segara mengambil langkah-langkah kongkrit sebelum pembantaian yang lebih besar akan terjadi di Myanmar. Apalagi Myanmar merupakan salah satu negara yang terdaftar dalam anggota PBB.

Selain itu kami juga berharap kepada Pemerintah Filipina, Indonesia dan seluruh negara yang tergabung dalam ASEAN berhentilah berseteru untuk urusan yang tidak penting  (ribut-ribut SEA GAMES). Ayo secepat mungkin segera mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana untuk Rohingya. Apalagi sebagai ketua ASEAN Filipina memiliki hak penuh untuk melakukan langkah-langkah kongkrit dan cepat untuk mengatasi konflik di Rohingya ini.

Ini kita sudah memasuki Hari Suci Idul Adha, mereka masih terkatung-katung di tengah hutan dan di camp-camp pengungsian. Sebelum terlambat, karena mereka ribuan para pengungsi tidak sanggup nunggu berhari-hari di sana dengan persediaan makan-minum seadanya, tidak ada pakaian dan serba kekurangan. Semoga perdamaian di Myanmar segera terwujud. Amiinn