Media Sosial Rentan Membuat Ayah & Bunda Depresi

2
257

Media sosial telah mengubah sedikit banyak pola komunikasi sebagian besar dari kita, termasuk para orangtua. Jika dulu para orangtua, apalagi yang baru mempunyai anak mengandalkan ibunya, mertua, atau orang yang lebih tua lainnya dalam mengasuh anak. Bertanya ini dan itu yang berkaitan dengan Buah Hati dan Ayah dan Bunda sendiri.

Sekarang dengan mudah orangtua dapat mencari info apapun dan berbagi pengalaman dengan para ibu lainnya hanya melalui smartphone yang mereka miliki. Dengan terhubung internet, apapun yang menjadi kebutuhan orangtua untuk si Kecil dapat dicari dengan mudah.

Namun perlu diingat, bahwa disisi lain, media sosial dapat menyebabkan depresi bagi orangtua. Sebuah penelitian dari Institut Kesehatan Mental Nasional, AS, menemukan bahwa masalah kesehatan mental yang menyerang sebagian orang disebabkan karena media sosial. Dalam dunia parenting, sosial media ditengarai sebagai biang kerok depresi pada orangtua, khususnya para ibu.

Misal, ketika Bunda sedang melihat halaman utama media sosial. Lalu Bunda melihat berbagai postingan dari pengguna lain tentang liburan mereka bersama si Kecil yang menyenangkan. Sedangkan Bunda tidak dalam kondisi seperti halnya dalam postingan tersebut.Ttentu Bunda akan merasa stres jika terus menerus memikirkannya, bukan?

Selain tertekan, rasa iri hati juga dimungkinkan akan tumbuh jika setiap hari dan terus-menerus Bunda melihat apa yang diposting orang-orang di sosial media lebih indah dari yang Bunda jalani. Belum lagi, jika Bunda berusaha membandingkan si Kecil dengan anak lain yang diposting dalam media sosial kerabat lainnya. Bunda bisa menjadi lebih minder dengan kondisi si Kecil jika ternyata si Kecil tidak seaktif atau tidak seperti yang lainnya.

Contoh yang lainnya, misalkan Bunda melihat dalam postingan yang lain ada anak yang berhasil berjalan di usianya yang belum genap 1 tahun. Namun, si Kecil hingga usia 1 tahun lebih dan belum lancar berjalan. Yang terjadi, tentu Bunda akan merasa tertekan dengan ini, bukan?

Jangan jadikan media sosial sebagai sumber informasi utama

Saat ini, segudang informasi bisa didapat melalui media sosial, mulai dari pola parenting, tips hamil dan menyusui, hingga makanan apa yang cocok untuk si Kecil pun dibagikan oleh para pengguna media sosial dari pengalaman mereka. Namun, jangan menjadikan media sosial sebagai sumber informasi yang utama. Bisa saja Bunda mendapatkan info dari postingan orang lain bahwa memberi makan anak saat usia mereka kurang dari 5 bulan itu tak masalah menurut pengalaman mereka.

Padahal kita tahu bahwa makanan pendamping ASI yang disarankan oleh WHO adalah untuk anak usia di atas 6 bulan. Lantas, jangan serta merta Bunda mengikuti apa yang telah diposting oleh orang lain dalam akunnya. Apalagi hanya karena orang tersebut public figure yang Bunda sukai. Jika kita mengikuti lantas terjadi apa-apa dengan si Kecil, tentu tak ada yang bisa bertanggung jawab selain orangtua sendiri.

 Bijak menggunakan media sosial

  • Batasi waktu dalam menggunakan sosial media
  • Ingat bahwa apa yang Bunda lihat di halaman media sosial tidaklah sesempurna pada kenyataannya
  • Jangan terlalu percaya dengan gambar yang dilihat karena kita tidak pernah tahu apa yang ada dibalik foto tersebut
  • Daripada menghabiskan waktu untuk membandingkan anak dengan anak lain, lebih baik menghabiskan waktu untuk menemani mereka tumbuh setiap saat
  • Meskipun yang membagikan info adalah idola Bunda, yang Bunda kenal ia sebagai orangtua cerdas dan patut dicontoh, tetap jangan hanya percaya oleh satu sumber
  • Menyangkut apa yang terbaik untuk si Kecil, Bunda dan Ayahlah yang lebih tahu mereka.
  • Jangan sungkan hubungi ahli gizi, tenaga media, pediatrician, atau dokter anak jika ingin berkonsultasi tentang perkembangan si Kecil

2 COMMENTS