Peran Orangtua Dalam Perkembangan Kepribadian Anak

0
317

Ungkapan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” memang sering dipakai untuk menggambarkan hubungan anak dan orang tua. Tak perlu jauh-jauh mengenal seperti apa orangtuanya, kita bisa ‘membaca’ mereka dari perilaku anak-anaknya.

Karenanya bila ingin memiliki anak yang tak hanya baik, namun juga berakhlak dan cerdas serta membanggakan, pahami dulu apa peran orang tua dalam perkembangan kepribadian anak dan bagaimana memaksimalkan itu. Berikut adalah beberapa peran orangtua dalam perkembangan kepribadian anak yang patut disimak:

1. Pemenuh kebutuhan jasmani

Ya tentu saja peran orangtua yang pertama adalah sebagai pemenuh kebutuhan jasmani, baik itu makanan, tempat tinggal yang layak, dan lain sebagainya.

Dalam praktiknya, orang tua tentunya harus bijak. Anak yang terlalu dimanja misalnya, ia bisa berkembang menjadi pribadi yang rapuh dan tidak mandiri. Sebaliknya, kalau si kecil dididik terlalu keras – permintaannya jarang atau tidak pernah dituruti – ia bisa merasa tertolak dan minder.

2. Pelindung/pembela

Selain kebutuhan jasmani, anak juga perlu perlindungan dari orang tuanya agar ia merasa dicintai. Perlindungan yang dimaksud di sini sangat luas cakupannya, mulai dari secara:

  • Fisik, contoh dari orang yang ingin berbuat jahat terhadapnya
  • Lingkungan, misalnya dari bencana alam atau gigitan binatang
  • Emosional, contoh dari tuntutan sekolah atau ancaman pihak lain yang membuatnya tertekan

Dalam hal ini, orangtua pun harus memeriksa dirinya sendiri. Jangan sampai ia juga melakukan kekerasan pada anak, baik secara fisik, verbal, maupun emosional. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keras, berpotensi menjadi pemberontak.

3. Pendukung

Ah, siapa coba yang bisa mendukung anak sebaik orang tuanya?! Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, atau setidaknya, mencoba melakukan hal baru yang membanggakan, orang tua harus ada di sana untuk mendukungnya. Dengan begitu, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

4. Guru

Ya, jangan dikira karena sudah ada guru di sekolah, maka orang tua bisa lepas tanggung jawab. Apa yang diajarkan guru di sekolah sangatlah terbatas, terutama dari segi waktu. Di samping pembelajaran dari sekolah, baik secara akademis maupun akhlak, orang tua juga harus menjadi guru pribadi untuk anaknya di rumah. Ya ini sih kalau orang tua ingin melihat anaknya pintar dan cerdas.

5. Teman/sahabat

Ada kalanya juga orang tua harus memposisikan dirinya sebagai teman atau sahabat anak. Ingatlah kalau Anda pernah jadi anak-anak, sedangkan mereka belum pernah menjadi orang dewasa. Karenanya, jangan segan untuk masuk dalam dunia anak, bermainlah dengannya, ajak ia bercanda, kenali hobinya lalu lakukan itu bersama-sama, dan sebagainya.

Dengan begitu jarak antara orang tua dan anak bisa dipersempit. Biarkan ia tahu kalau dirinya juga punya hak untuk ‘dimanusiakan’ dan dihargai sebagai seorang pribadi (bukan sebagai anak yang harus selalu berkata “ya” pada orang tuanya). Sebab bagaimanapun juga, anak adalah makhluk hidup yang memiliki akal, pendapat, serta seleranya sendiri.

6. Teladan/tokoh idola

Yang satu ini, meski diletakkan di nomer terakhir, namun menduduki peran paling penting. Ya orang tua merupakan teladan anak nomor 1. Tak sedikit lho anak yang mengidolakan orangtuanya. Karena itu kalau ingin anak tumbuh dengan pribadi yang berkualitas, jadilah orang tua yang memberikan teladan positif juga.

Ketika kita ingin anak yang ahli ibadah, mencintai agamanya, dan dekat dengan Sang Pencipta, maka orangtua pun harus memulainya terlebih dahulu. Setuju?!

http://www.lifecho.com/what-is-the-role-of-a-parent-roles-of-being-a-parent/
http://www.pbs.org/parents/education/going-to-school/supporting-your-learner/role-of-parents/