Tips Memilih Mainan Anak Yang Aman dan Edukatif

3
391
mainan anak

Bermain adalah dunia anak-anak. Lewat bermain, anak-anak belajar mengenal apa yang dilihat dan dipegang, mengeksplorasi rasa ingin tahunya, mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, dan lainnya. Ya, bermain memang sangat bermanfaat untuk anak-anak.

Sebagai orangtua, tentu tak mau sembarangan memilihkan mainan untuk anak-anak . Bahkan, tak jarang orangtua kesulitan memilihkan mainan untuk anak-anak karena mempertimbangkan banyak hal, bukan?

Nah, berikut panduan bagi orangtua untuk memilihkan mainan untuk anak, khususnya balita:

  1. Sesuaikan dengan usia si Kecil

Beberapa mainan telah memiliki label usia anak yang cocok untuk memainkannya. Misal 0+, 1+, 3+, 5+, dan sebagainya. Lebih baik untuk tidak mengabaikan label usia pada mainan, demi keamanan saat si Kecil memainkannya.

Lebih baik untuk tidak memberikan mainan yang berukuran kecil atau memiliki bagian-bagian kecil untuk anak usia di bawah 3 tahun. Mainan berukuran kecil atau memiliki bagian-bagian kecil yang bisa dilepas rentan tertelan dan membuat anak tersedak.

  1. Hindari mainan bertali atau berpita panjang

Mainan yang berpita atau bertali panjang lebih dari 30cm akan membahayakan bayi atau anak ketika memainkannya. Bayi atau anak-anak dapat tercekik secara tidak sengaja karena leher terlilit tali dari mainannya.

Bunda, tak sedikit bayi atau anak yang lehernya terlilit benang, tali, atau pita panjang dari mainannya sendiri. Tak jarang juga yang berakibat buruk mulai dari melukai fisik si Kecil bahkan menyebabkan kematian karena tak segera tertolong.

  1. Pastikan standar keamanannya

Bunda dan Ayah perlu cek mainan si Kecil apakah terbuat dari bahan yang memiliki standar seperti kualitas bahan, cat yang digunakan, dan juga keamanan produknya. Cari tahu apakah mainan anak mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, kadmium, arsenik, dan bahan kimia lainnya. Tak ada salahnya Bunda mencari tahu apakah mainan tersebut memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) atau tidak. Lalu, jika mainan terbuat dari plastik, cek apakah BPA Free (bebas bisphenol-A) agar aman untuk kesehatan bayi jangka panjang.

  1. Warna-Warni untuk merangsang inderanya

Salah satu mainan untuk si Kecil yang bisa Ayah dan Bunda pertimbangkan yaitu yang berwarna-warni dan memiliki warna cerah serta kontras. Selain menarik perhatian, warna kontras pada mainan merupakan salah satu hal yang dapat merangsang perkembangan anak, khususnya melatih indera penglihatan si Kecil.

Warna juga bisa melatih si kecil menghafal sesuatu serta mengajarkan konsep warna kepada anak saat bermain.

  1. Pilih mainan bersuara

Selain warna, si Kecil biasanya tertarik dengan mainan yang dapat mengeluarkan suara atau berbunyi. Suara dari mainan dapat merangsang indera pendengaran si Kecil. Namun, perlu diingat jangan memilih mainan yang memiliki suara terlalu keras atau bising. Mainan dengan pengatur volume suara dapat menjadi pilihan tepat bagi Ayah dan Bunda saat membelikan mainan.

  1. No balloons!

Balon memang pernak-pernik beraneka warna yang pasti akan menarik perhatian si Kecil. Namun, jika usia si Kecil di bawah 3 tahun, lebih baik untuk tidak memilih balon sebagai mainan si Kecil. Karena ternyata balon menjadi salah satu penyebab bayi tersedak yang paling sering. Saat balon meletus atau belum ditiup, anaka-anak dapat memasukkannya ke dalam mulut dan membuatnya tersedak.

3 COMMENTS

  1. Sesuaikan dengan usia si Kecil – ya… karena tidak semua mainan cocok dimainkan oleh anak yang masih dalam masa pertumbuhan
    Hindari mainan bertali atau berpita panjang – bener banget… bisa bikin dia keserimpet, jatuh dan terlilit.
    Pastikan standar keamanannya – walau sudah ada standartnya, orang tua sebaiknya tetap memantau
    Warna-Warni untuk merangsang inderanya – untuk merangsang indera penglihatan dan juga memorinya
    Pilih mainan bersuara – untuk merangsang indera pendengarannya supaya anak bisa lebih mudah memperhatikan sesuatu.
    No balloons! – iyah banget nihhh. soalnya anak suka gemes kalo pegang balon. Kalo meletus, bisa bikin dia kaget , shock dan berakibat stress.