Belajar Pengabdian Pada Orangtua dari Kisah Salman Al Farisi

3
218

Salman Al Farisi tentu menjadi nama yang cukup familiar dari sederetan para Sahabat Rasulullah SAW bukan? Ya, Salman Al Farisi adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia. Para sahabat Rasulullah SAW yang lainnya sering juga menyebutnya dengan nama Abu Abdullah.

Nama Salman Al Farisi dikisahkan yang mempunyai ide membuat parit dalam pernang Khandaq dalam upaya melindungi Kota Madinah dari kaum kafir Quraisy.

Kisahnya dalam memeluk agama Islam penuh liku. Awalnya ia seorang Majusi, tapi ia tidak nyaman dengan agamanya tersebut. Lalu, ia mencoba untuk mempelajari agama Nasrani dan memeluk agama tersebut. Namun, ia menemukan fakta yang mengganggu pikirannya.

Yakni terkait dengan ajaran kesederhanaan dari pendeta waktu itu, namun kehidupan para pendeta tersebut tidak mencerminkan apa yang mereka ajarkan. Para pendeta saat itu justru bergelimang harta dari hasil permintaan ke umatnya yang menebus dosa.

Salman Al Farisi mengembara untuk menemukan agama yang tepat untuknya. Dalam pengembaraannya sampailah ia di Jazirah Arab dan memeluk Islam.

Bakti Salman Al Farisi kepada Ibunya

Saat itu tahun Haji. Ibu Salman Al Farisi ingin sekali mengunjungi Baitul Makkah. Namun, saat itu ia sedang sakit. Sebagai anak, Salman Al Farisi ingin sekali membahagiakan ibunya dan menunaikan baktinya kepada orangtua.

Akhirnya, ia memutuskan untuk menggendong ibunya yang sakit agar tetap bisa menunaikan ibadah Haji. Tidak hanya menggendong ibunya saat rukun-rukun Haji dijalankan. Namun, Salman Al Farisi menggendong Sang Ibu dari Kota Madinah higga sampai Mekah.

Dengan berjalan kaki melewati gurun pasir selama berhari-hari untuk menempuh jarak Madinah – Makkah yang sekitar 500km. Sesampainya di Makkah, ia bertemu dengan Rasulullah SAW yang sangat ia cintai dan rindukan.

Salman Al Farisi kemudian bertanya pada Rasullullah,

“Yaa Rasulullah, apakah saya sudah berbakti kepada orangtua saya? Saya telah menggendong ibu saya untuk menunaikan ibadah haji dari Madinah menuju Makkah ini.”

Mendengar cerita Salman Al Farisi, Rasulullah menangis. Sambil tersedu, Rasulullah menjawab,

“Wahai Saudaraku, sungguh engkau anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak yang sholeh, tapi maaf.”

Sambil tetap menangis, Rasulullah melanjutkan,

“Tapi maaf, apapun yang engkau lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orangtuamu, tidak akan pernah bisa membalas jasa orangtuamu yang teklah membesarkanmu.”

Semoga kita bisa mengambil ibroh dari cerita di atas!

3 COMMENTS