Tips Melatih Kemandirian Anak Sejak Dini

0
404
melatih kemandirian

Anak merupakan dambaan setiap keluarga, terlebih orang tua. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan dan harapan baru bagi kedua orang tua. Hampir setiap orang tua rela melakukan apapun untuk anak-anaknya. Hingga tidak jarang kita temui orang tua yang tidak berdaya di depan anak akibat terlalu memanjakan sang anak.

Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah bekerja di tempat terapi anak berkebutuhan khusus, orangtua banyak mengeluhkan perilaku anak yang seenaknya sendiri. Seperti memerintah orangtuanya untuk melakukan sesuatu yang diinginkan, bahkan sampai berperilaku agresif seperti marah, membentak atau juga menyakiti dirinya sendiri ketika keinginannya tidak dituruti.

Ada juga anak yang sampai umur 5 tahun, kemampuan motoriknya belum terasah karena terbiasa dilayani. Bahkan untuk memegang sendok sendiri saat makan pun belum terlatih karena selalu disuapi oleh ibu atau asisten rumah tangganya. Anak-anak jadi malas untuk melakukan apapun sendiri karena merasa selalu dibantu oleh orang-orang yang ada dirumahnya.

Akhir-akhir ini juga sering muncul kasus anak yang berperilaku tidak sopan kepada guru. Misalnya anak yang tidak mengerjakan tugas sekolah dan saat guru memberikan teguran, orang tua malah berbalik menyalahkan guru. Bahkan tidak sedikit yang melakukan kekerasan terhadap guru karena merasa tidak suka anaknya ditegur atau dihukum saat di sekolah.

Seperti yang terjadi di salah satu sekolah di Makassar, 2016 lalu. Oknum orangtua memukuli guru di salah satu sekolah, hingga berdarah-darah karena tidak terima anaknya ditegur saat tidak mengumpulkan tugas sekolah. Orangtua dalam kasus ini, tidak menerima anaknya ditegur oleh guru karena kemungkinan saat di rumah tidak pernah sekalipun menegur apalagi memarahi. Anak sangat dimanja, dituruti segala keinginan bak raja, salah tidak apa yang penting anak selalu bahagia.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua ?

Salah satu solusi yang dapat ditawarkan dari kasus-kasus tersebut adalah membiasakan dan melatih anak untuk mandiri. Sikap mandiri pada dasarnya sudah dapat dibiasakan sejak masih kecil, misalnya menggunakan pakaian sendiri, memasang tali sepatu dan macam-macam pekerjaan kecil lainnya.

Orangtua berperan penting dalam upaya menumbuhkan sikap mandiri pada anak. Berikut beberapa hal yang dapat diterapkan untuk melatih anak menjadi mandiri :

1. Beri kesempatan untuk memilih

Anak yang terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan akan terlatih membuat keputusan sendiri bagi dirinya. Misalnya, anak diberikan pilihan beberapa menu makan siang yang akan dimasak hari ini. Atau, pilihan buku bacaan yang akan dibeli di toko buku. Kebiasaan-kebiasaan untuk membuat keputusan-keputusan sendiri dalam lingkup yang lebih kecil akan melatih anak dalam menentukan keputusan-keputusan yang lebih besar nantinya.

2. Hargailah setiap usahanya

Usaha yang ditunjukkan oleh anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi, wajib untuk diberikan apresiasi atau penghargaan sekalipun itu hanya hal kecil. Seperti anak yang berhasil membuka tutup botol, memasang kancing bajunya sendiri dan banyak hal lainnya. Hal ini dapat membantu meningkatkan rasa percaya dirinya dalam melakukan sesuatu sehingga secara tidak langsung juga dapat melatih kemandiriannya.

3. Hindari banyak bertanya

Terlalu banyak memberikan pertanyaan kepada anak menunjukkan seolah orang tua tidak yakin pada kemampuan anak. Seperti misalnya saat pulang sekolah, orang tua menghujani anak dengan banyak pertanyaan yang mungkin dianggap sebagai bentuk perhatian kepada anak. Padahal anak lebih senang disambut dengan kata-kata yang hangat seperti “Wah anak mama sudah pulang, ayo istirahat dulu”. Sehingga apabila ada hal yang ingin diceritakan oleh anak, anak akan bercerita dengan sendirinya setelah ia merasa nyaman.

4. Jangan langsung menjawab pertanyaan

Ketika anak memberikan pertanyaan, orang tua sebaiknya tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut namun orang tua dapat mengarahkan anak untuk berpikir terlebih dahulu mengenai kemungkinan-kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Seperti kenapa kita harus mandi? Orangtua dapat mengarahkan anak, jika tidak mandi apa yang akan terjadi pada tubuh kita. Sehingga anak dilatih untuk berpikir terlebih dahulu.

5. Dorong untuk melihat alternatif

Orang tua dapat mendorong anak untuk melihat alternatif lain dari solusi permasalahan yang sedang dihadapi. Anak biasanya akan selalu datang kepada orang tua jika menemukan permasalahan, namun disini tugas orang tua adalah mendorong anak untuk dapat melihat alternatif lain selain orangtua. Misalnya ketika anak mengeluh sakit gigi, orang tua dapat memberikan jawaban “ nanti kita periksa ke dokter gigi ya”.

6. Jangan patahkan semangatnya

Anak biasanya sangat bersemangat ketika memiliki keinginan, meskipun keinginan tersebut tampak mustahil di mata orang tua. Namun, bukan berarti orang tua boleh mematahkan semangat anak. Misalnya, anak ingin agar tidak diantar jemput ke sekolah tapi ingin ikut mobil antar jemput dari sekolah.

Orangtua sebaiknya tidak langsung memberikan gambaran akibat dari situasi ketika si anak ikut mobil antar jemput, seperti bangun lebih pagi dan sampai rumah lebih siang. Namun alangkah bijaknya jika orangtua menanyakan terlebih dahulu alasan yang mendasari, meskipun pada akhirnya belum dapat dipenuhi setidaknya anak tidak langsung dipatahkan semangatnya untuk belajar mandiri.

Nah, jadi kemandirian merupakan aspek yang berkembang dalam diri setiap anak, yang bentuknya sangat beragam dan berbeda pada masing-masing orang tergantung pada proses perkembangan dan proses belajar yang dialami oleh masing-masing anak yang tentunya juga sangat membutuhkan peran dan kerjasama dari orangtua. Yuk ajari anak kita mandiri dari sekarang!