Utsman bin Affan, Sahabat Rasulullah Yang Dermawan

1
443

“Risau terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, risau terhadap akhirat adalah cahaya bagi hati”  Utsman bin Affan

Sosok Utsman bin Affan merupakan Khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin yang menggantikan  posisi Umar bin Khattab. Utsman merupakan salah satu dari keempat sahabat Rasulullah yang bersama memperjuangkan Islam.

Nama beliau terpilih sebagai pemimpin diantara 6 kandidat yang diusulkan Umar bin Khattab sebelum ia wafat. Saat diangkat sebagai Khalifah, Utsman sudah berusia 70 tahun dan menjalani kepemimpinan kurang lebih 11 sampai 12 tahun lamanya.

Sosok Pemalu Dan Rendah Hati

Utsman bin Affan terlahir dari golongan Bani Ummayyah dan ibu Arwa binti Kuriz bin Rabiah ini memiliki  hubungan kekerabatan yang dekat dengan Rasulullah. Usia Utsman hanya berselisih 5 tahun lebih muda dari Nabi Muhammad.

Pertama kali beliau berkenalan dengan Islam atas ajakan Abu Bakar as-Shiddiq. Utsman termasuk golongan pertama yang masuk agama Islam.

Begitu istimewanya  dan kedekatannya dengan Rasulullah sosok Utsman mendapatkan julukan “Dzun Nurain” yang artinya dua cahaya karena ia menikahi putri kedua dan
ketiga Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.

Beliau dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, jujur, sopan, dermawan dan pemalu. Sikapnya yang rendah hati membuatnya memiliki rasa malu meskipun sangat berkecukupan. Kemuliaan itu membuat Allah dan
Rasulullah kagum kepada sosoknya. Meskipun dikenal pemalu bukan berarti Utsman lemah namun tegas menegakkan keadilan. Dari Abu Mas’ud radhiyallahu‘anhu, Rasullullah bersabda:
“Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari nabi-nabi terdahulu adalah:  “Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu.”
(HR. Bukhari)

Tidak Berhitung dalam Berdakwah di Jalan Allah

Terlahir dari keluarga yang kaya raya menjadikan dirinya sosok yang pekerja keras. Sejak usia remaja Utsman sudah menjalani perdagangan di berbagai negeri.

Memiliki kekayaan berlimpah tak membuatnya sombong dan berhitung dalam memberikan infaq. Beliau sering menyedekahkan kepada yang membutuhkan terutama saat terjadi peperangan.

Utsman tak pernah lelah untuk membantu mereka tanpa takut merasa kekurangan. Utsman merupakan pendukung ekonomi saat bersama-sama Rasulullah berdakwah di jalan Allah dan menyebarkan Islam.

Kisah kedermawanannya ini menjadi inspirasi. Di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Shiddiq ia memberikan bantuan 500 ton gandum untuk orang-orang miskin di Hijaz yang terancam kelaparan karena panen gandum yang rusak, kemudian untuk persiapan perang Tabuk, Utsman memberikan bantuan berupa unta, kuda dan uang.

Di kesempatan yang lain ia membangun sumur sebagai sumber air di Madinah yang ia wakafkan untuk kepentingan umat Islam yang sampai saat ini sumur tersebut masih ada.

Utsman bin Affan merupakan satu-satunya sahabat Nabi yang memiliki tabungan dan memiliki akta tanah di Tata Kota Madinah atas namanya sendiri.

Prestasi Dan Kepemimpinan Utsman Bin Affan

Di masa kepemimpinannya, pemerintah Islam berjalan dengan mapan dan makmur. Beliau banyak memberikan pengaruh besar terhadap pembangunan kota Mekkah dan Madinah.

Utsman bin Affan tercatat merupakan Khalifah yang pertama kali melakukan perluasan Masjid Al-Haram, Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah karena semakin banyak umat Islam yang menunaikan ibadah haji, kemudian mengajukan adanya staff keamanan dan polisi untuk menjaga negeri, dan membangun pengadilan yang di masa kepemimpinan Khalifah sebelumnya dilakukan di masjid.

Salah satu yang terpenting, di masa kepemimpinan Utsman beliau mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran dalam satu mushaf saja seperti Al-Quran yang kita saat ini.

Tetapi tak semua orang suka dengan kemajuan yang dilakukan olehnya. Ketika beliau mengganti para pemimpin wilayah yang dianggap kurang amanah, mereka tidak menyetujui keputusannya. Orang-orang munafik tersebut menyimpan rasa dendam kepadanya.

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi Rasulullah pernah berpesan sebelum ia wafat. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah pernah mengutus seseorang untuk memanggil Utsman. Ketika Utsman datang, Rasulullah menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah menyambutnya, maka salah salah seorang dari kami menyambut kedatangan yang lain. Dan ucapan terakhir yang disampaikan Rasulullah sambil menepuk pundak Utsman adalah, “Wahai Utsman mudah-mudahan Allah akan memakaikanmu sebuah pakaian (mengamanahimu jabatan khalifah) dan jika orang-orang munafik ingin melepaskan pakaian tersebut, janganlah engkau lepaskan sampai engkau bertemu denganku (meninggal),” Beliau mengulangi ucapan itu sebanyak tiga kali.

Sahabat Rasulullah yang mulia ini akhirnya wafat pada hari Jumat pada 18 Dzulhijjah 35 H dan dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.