Yuk, Kenali Pola Asuh Orangtua dan Dampaknya Pada Anak

0
250
pola asuh

Setiap orangtua pasti ingin anaknya meraih kesuksesan di masa depan. Sukses dalam hal ini bukan perihal “karier” namun lebih pada aspek kognitif, afektif dan perilaku. Salah satu cara agar anak sukses di masa depannya adalah dengan menerapkan pola asuh yang tepat bagi anak.

Pada dasarnya, setiap orangtua pasti ingin mengasuh anak-anaknya dengan baik. Hanya saja, yang sering dilupakan bahwa orangtua seringkali kurang memperhatikan sisi keamanan, kenyamanan serta pengaruh sosial dan lingkungan anak.

Penelitian yang berjudul Understanding Kids oleh Anchor Boneeto, mengungkap fakta bahwa anak-anak Indonesia cenderung dibesarkan dengan keterbatasan sosial. Mereka mendapatkan tekanan sosial, keterbatasan bermain di luar rumah, dan semata-mata fokus pada pencapaian akademis sehingga menghambat pertumbuhan bakatnya.

Lalu, pola asuh seperti apa yang sebaiknya diterapkan oleh orangtua kepada anak? Di bawah ini saya akan menjabarkan ada 4 jenis pola asuh orang tua beserta dampaknya pada anak

1. Pola Asuh Otoriter

Pernah mendengar kasus anak yang menunjukkan perilaku buruk di luar, sering melakukan kekerasan, agresif dan bullying pada anak lain? Namun ketika di rumah, sangat patuh kepada orang tua bahkan tidak jarang orang tua memberikan hukuman keras (punishment) jika anak melakukan kesalahan.

Salah satu penyebab dari kasus seperti ini adalah pola asuh otoriter pada anak. Pola ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Anak harus menuruti keinginan orang tua. Anak tidak diberikan kesempatan untuk berpendapat. Jika anak tidak mau patuh, orang tua akan memberikan hukuman sebagai konsekuensi akibat perilakunya.

Orangtua hanya ingin anaknya menjadi anak yang patuh dan tidak membuat kesalahan. Tak ayal, hal tersebut membuat anak ingin melampiaskan kemarahannya di luar. Anak pun akhirnya terbentuk menjadi sosok yang otoriter di lingkungan pergaulannya. Atau sebaliknya, anak juga dapat menjadi sosok yang pencemas, curiga dan menarik diri dari pergaulan karena rasa percaya diri yang rendah.

2. Pola Asuh Permisif

Pola asuh ini berkebalikan dengan pola asuh otoriter. Orang tua cenderung sangat memanjakan anak dan memberikan kebebasan kepada anak untuk berbuat apa saja. Orangtua memiliki kehangatan dan menerima anak apa adanya.

Orang tua cenderung tidak tega ketika anak merengek ingin sesuatu. Orang tua tidak menerapkan batasan sehingga hubungan antara orang tua dan anak sangat hangat. Jika pada pola asuh otoriter, anak seringkali diberikan hukuman (punishment), sebaliknya pada pola asuh ini orang tua seringkali memberikan penghargaan (reward) kepada anak.

Dampaknya, anak akan menjadi sosok yang kurang mandiri dan sangat bergantung kepada orang lain. Buruknya lagi, anak akan memegang kuasa dan tidak mau patuh kepada orang tua karena anak menganggap bahwa apapun yang dia inginkan, orang tua tidak pernah melarang. Selain itu, anak juga kurang dapat bertanggung jawab terhadap tugasnya sehingga harus sering didampingi dan diberikan arahan.

3. Pola Asuh Demokratis

Pola asuh ini berada di tengah-tengah antara otoriter dan permisif. Orang tua berusaha menerapkan aturan dan batasan untuk anak serta berusaha untuk tetap responsif terhadap anak. Orang tua juga bersedia untuk mendengarkan pertanyaan dan pendapat dari anak.

Menurut psikolog, Tika Bisono dari hasil wawancara dengan kompas.com, pola asuh demokratis memungkinkan orangtua dan anak untuk saling menyesuaikan dengan berbagai keadaan dirinya.

Pola asuh ini juga cenderung lebih dapat diterima oleh anak karena orang tua selalu memberikan alasan logis pada tiap aturan yang diberikan sehingga memungkinkan anak untuk bebas tapi tetap bertanggung jawab. Pola asuh ini dapat membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri, mempunyai kontrol dan kepercayaan diri yang kuat serta dapat berinteraksi dengan baik.

4. Pola Asuh Agamis

Ini adalah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dalam mendidik, membina, membiasakan dan membimbing anak secara optimal berdasarkan Al Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

Ini berupa tahapan-tahapan dalam mendidik anak berdasarkan kebutuhan anak pada usia-usia tertentu. Anak akan diberikan kasih sayang yang utuh dari orang tua serta akan mulai dibimbing untuk menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab pada saat usianya sudah mulai mampu memahami hal-hal baik dan buruk.

Salah satunya, mulai diajarkan untuk melaksanakan sholat di usia 7 tahun dan diberikan hukuman jika meninggalkan sholat. Sehingga anak-anak mulai memahami kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim.

Dari keempat pola asuh yang telah dijelaskan diatas, masing-masing orang tua dapat melihat dari sisi baik dan buruknya. Jika pola asuh yang diterapkan menimbulkan banyak hal buruk, tidakkah lebih baik untuk menerapkan pola asuh yang dapat diterima dengan baik? tidak hanya oleh orang tua tetapi juga pada anak.

Melihat dari perkembangan zaman saat ini, pola asuh demokratis tampak paling sesuai untuk diterapkan pada anak di mana orang tua memberikan batasan kepada anak dalam berperilaku tetapi tidak mendoktrin anak. Pola asuh ini juga dapat dikombinasikan dengan pola asuh agamis, agar anak-anak dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman namun tetap dilandasi oleh nilai agama yang kuat.