5 Cara Bijak Menghukum Anak

3
4990

Ayah Bunda, anak adalah manusia yang kita siapkan untuk kehidupannya sendiri di masa depan, bukan kehidupan kita di zaman sekarang. Orang tua adalah pendidik pertama setelah lingkungan dan para guru. Oleh sebab itu kita perlu terus belajar dan menggali pemahaman baru agar bisa mengetahui pola didik anak-anak sesuai dengan zamannya.

Bahkan Umar bin Khaththab pernah menjelaskan hal ini secara serius kepada para sahabat-sahabatnya “Didiklah anak-anak kalian, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,”.

Pesan yang cukup pendek ini menyiratkan bahwa sebagai orangtua kita harus bijaksana mendidik anak, berikan pelayanan terbaik, dan berilah hukuman yang bijaksana kepadanya apabila mereka melakukan hal-hal di luar batas.

Apa pentingnya hukuman yang bijaksana untuk anak?

Hukuman yang bijaksana membuat anak termotivasi untuk melakukan hal-hal positif. Hukuman yang bijaksana akan membuat anak-anak mampu membuat pola sebab-akibat, sehingga ia tahu segala jenis resiko yang akan menimpanya apabila ia melakukan kesalahan. Hukuman yang bijaksana akan membuat anak sadar, bukan malah membuat mereka depresi dan tertekan.

Banyak orangtua di zaman sekarang memaksakan kehendak kepada anak dan sering berlaku kasar apabila mereka melakukan kesalahan. Ini adalah kesalaha yang sangat besar. Anak tidak mengerjakan pekerjaan rumah disebut “Anak bodoh”. Anak tidak mau diatur sedikit diteriaki “Dasar anak nakal, anak setan” dan hingga dipukul. Apabila anak tidak mau membantu orangtua diolok-olok sebagai “Anak pemalas”. Pola-pola semacam ini tanpa sadar ketika dilakukan secara berulang justru bukan membuat anak sadar, tapi malah membuat mereka semakin terpojok, tertekan, depresi dan lemah.

Lihatlah berita di berbagai media akhir-akhir ini banyak anak-anak di bawah umur melakukan hal-hal asusila, narkoba, mabuk-mabukan, tawuran, tidak ramah dengan teman, pendendam dan bahkan ada yang bunuh diri. Ini bisa dipastikan adalah realita output dari para orangtua yang melakukan hal-hal yang saya sebutkan di atas tadi.

Nah, oleh karena itu sebelum terlambat, kita harus perbaiki cara bagaimana menghukum anak yang bijaksana. Yuk simak satu persatu penjelasannya:

1. Ajari Anak Ilmu Agama & Buatlah Sebuah Aturan Kecil di Rumah

Sejak balita sebaiknya anak sudah dikenali ilmu agama yang meliputi tauhid, akhlak dan ibadah. Anak dikenalkan dengan Tuhannya agar mereka tahu bahwa hidup ini punya tujuan mulia yaitu beribadah. Dengan bekal ilmu akhlak anak mengetahui betapa pentingnya menghormati orantua, guru, menyanyagi teman dan berbuat baik kepada semua orang dan makhluk ciptaan Allah.
Selain benteng agama Ayah-Bunda juga perlu menambahkan dengan membuat kesepakatan aturan kecil di rumah seperti “Apabila lupa sikat gigi, telat bangun tidur, tidak mengerjaan PR, atau malas mengaji, dan lain-lain.

2. Diamkan, Biarkan Anak Mengakui Kesalahannya Sendiri

Apabila kesalahan itu benar-benar dilakukan oleh anak, maka coba Ayah Bunda bersabar, tenang dan diamkan beberapa hari sampai ia benar-benar mengakui kesalahan terhadap aturan yang sudah disepakati. Dengan langkah ini kita sudah memberikan pembelajaran kepada anak cara bertanggungjawab dan mempraktekkan kedisiplinan.

3. Bicaralah 4 Mata Pada Saat Ia Tenang

Terkadang ada alasan yang tidak bisa Ayah Bunda ketahui kenapa anak melakukan sebuah kesalahan. Itulah sebabnya kita jangan pernah ambil keputusan sepihak terhadap prilaku anak. Apalagi sampai memukul. Itu keputusan yang fatal dan mematikan.

Ajak anak berbicara ketika kondisi sudah tenang. Lalu tanyakan dengan lembut apa alasan yang melatarbelakangi mereka melakukan kesalahan. Gunakanlah kata-kata persuasif layaknya orangtua yang sangat mencintai anaknya, “Adik sayang, sini peluk ibu. Ibu tidak mau lihat kamu sedih terus. Ayo cerita ke ibu, kenapa tadi kamu melakukan itu?” Gunakan nada yang lembut dan mendayu-dayu.

4. Hukum Anak dengan Memberikan Tugas-Tugas Rumah

Cara menghukum anak yang bijaksana adalah dengan memberikan mereka tugas-tugas yang membuat mereka belajar dan berkembang. Contohnya, ketika anak lalai dan tidak melaksanakan shalat magrib maka dihukum dengan tugas membuat kandang kucing, membersihkan kendaraan ayah, atau mencuci piring di dapur selama 1 minggu.

Dengan tugas-tugas ini dapat diyakini bahwa anak akan merasakan keberatan untuk melakukannya dan akan tidak mengulanginya lagi. Disamping itu mereka jadi tahu bagaimana cara melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah.

5. Stop Aktivitas Favorit Anak

Apabila anak masih melakukan kesalahan yang sama maka Ayah Bunda bisa melakukan pemboikotan semetara aktivitas favorit anak seperti bermain gadget, game, internet, televisi atau jalan-jalan ke tempat wisata selama beberapa hari. Dengan membatasi akses ke ruang favoritnya ia akan berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan yang harus segera diperbaiki.

Itulah Ayah Bunda cara bijak menghukum anak. Semoga tulisan ini bisa membantu mencarikan solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak yang terlalu aktif. Selamat membaca!

3 COMMENTS

  1. Assalamualaikum,
    Mulai usia berapa anak boleh mengenal “dihukum”.
    Melihat bbrp rekan memberlakukan -timed out- pada anaknya di usia mulai 1 thn.

    Dampak apa yg akan diterima anak balita jika terlalu dini mengenal “hukuman”.

    Terima kasih 🙏

  2. Waalaikumsalam.
    Terimakasih Bunda Rinny.
    Menerapkan hukuman kepada anak adalah dalam rangka menerapkan hidup disiplin dalam urusan dunia dan akhirat.
    Nah, untuk anak-anak usia 1 tahun sebaiknya terlebih dahulu dikenalkan soal tanggungjawab dan konsekuensi sejak dini. Misalnya kalau anak melakukan ini akan berakibat seperti ini. Kalau mainannya tidak dicuci nanti banyak kuman. Kalau bajunya taruk di lantai, nanti jadi kotor, dll.
    Setelah anak-anak sudah agak besar dan sudah mengenal konsekuensi tersebut baru kita terapkan aturan di dalam rumah.
    Kalau kita merujuk Hadits, anak sudah boleh diberi hukuman pada usia 7 tahun,
    “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan shalat, serta pisahkanlah mereka di tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan).
    Semoga jawaban ini bisa membantu ya bun.
    Terimakasih.

  3. Bagaimana kalo anak kita dihukum
    Tapi mereka malah mengeluarkan senjata mereka dengan menangis menjerit jerit
    Dan susah untuk di diamkan .
    Kalo sudah tenag kita kasih tau salah nya tapi dia cuekcuek,gak mendengarkan malah di ulangi .
    Kayak nya saran / artikel di atas buat anak 4 tahun ke atas deh .
    Kalao anak 1-3 tahun belum mengerti di ajarkan yg namanya hukuman .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here