4 Kunci Melatih Anak Disiplin Tanpa Membuatnya Benci Orangtua

3
8069

Tentu Ayah dan Bunda ingin si Kecil tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bukan? Membesarkan anak memang bukan hal yang mudah. Ketika orangtua ingin melatih mereka agar disiplin, terkadang cara yang kita gunakan kurang tepat. Alih-alih si Kecil menjadi disiplin, justru mereka kadang akan takut bahkan membenci orangtuanya karena merasa dibatasi dan banyak diatur.

Kadang, kita pun membuat diri kita perlu untuk ditakuti anak agar mereka mau mendengarkan apa yang kita ingin terapkan. Memang hal tersebut tidak salah. Pola mendidik anak berbeda-beda dari masing-masing keluarga. Hanya saja, dengan anak menjadi takut atau bahkan benci terhadap orangtuanya dikhawatirkan akan membuat jarak antara anak dan orangtua.

“Nggak mau ah, takut. Bunda saja yang bilang ke Ayah.” Pernah mendengar anak mengatakan hal ini atau semacamnya ketika mereka ingin mengatakan sesuatu? Ayah dan Bunda, melatih disiplin pada anak tak harus menjadi orangtua yang “ditakuti” anak.

Berikut tips melatih disiplin pada diri anak tanpa kekerasan dan tanpa menimbulkan kebencian atau sakit hati pada anak:

  1. Jadilah contoh

Ya, anak akan belajar sesuatu untuk pertama kalinya dari orangtua dan keluarga terdekat di rumahnya. Jika ingin melatih disiplin pada anak, jadilah rolemodel bagi mereka. Disiplin anak tidak akan terbangun dengan baik jika Ayah dan Bunda lebih sering “menyuruh” daripada memberikan contoh.

Saat Ayah dan Bunda ingin menerapkan bahwa bermain gadget hanya saat hari libur, jauhkan gadget dari tangan Bunda saat sedang didepan anak. Saat Ayah dan Bunda ingin si Kecil membaca buku seminggu dua kali, perlihatkan bahwa Ayah dan Bunda pun melakukan hal yang sama.

  1. Bantu anak memahami alasannya

Daripada melarang anak melakukan ini dan itu lebih baik coba ajak anak untuk memahami kenapa mereka tak boleh melakukan hal terebut. Ajak mereka untuk berbicara dan berdiskusi kecil antara orangtua dan anak. Ajak anak berfikir bahwa hal yang dilarang itu baik untuk dirinya.

  1. Buat kesepakatan antara orangtua dan anak

Setelah anak memahami alasan kenapa ia harus atau tidak harus melakukan sesuatu, ajak mereka untuk membuat kesepatan kecil. Buat kesepakatan di mana anak tidak berfikir bahwa hanya dia yang dirugikan. Misalnya, setelah pulang dari sekolah, anak harus segera berganti baju seragam serta meletakan tas dan sepatu di tempatnya. Jika tidak, maka ia harus membantu Bunda menyapu lantai. Terapkan hal ini juga pada anggota keluarga yang lain.

  1. Konsisten itu penting

Ayah dan Bunda perlu konsisten untuk menerapkan setiap kesepakatan yang telah dibuat dengan si Kecil. Disiplin bisa terbangun jika kita konsisten menerapkannya pada anak. Kadang, “lupa” menjadi faktor di mana Ayah dan Bunda tidak konsisten terhadap apa yang orangtua inginkan atau kesepakatan yang sudah terbangun. Jika demikian, Ayah dan Bunda bisa membuat catatan kecil sebagai pengingat bahwa saat ini sedang ada “bisnis” antara Ayah dan Bunda bersama si Kecil.

3 COMMENTS