Infeksi Rahim dan Tak Haid Selama 3 Tahun Usai KB Suntik, Ibu Ini Harus Dioperasi

7
514

Majelis Ulama Indonesia memperbolehkan KB dengan tujuan mengatur jarak kelahiran demi kesehatan ibu dan anak, bukan dimaksudkan untuk memutus keturunan. Ada berbagai metode yang bisa dipilih untuk menunda kehamilan atau mengatur jarak lahir anak. Ini juga merupakan program pemerintah untuk membatasi jumlah kelahiran dengan berbagai pertimbangan.

Salah satunya dengan program KB suntik. KB Suntik merupakan suatu metode kontrasepsi yang diberikan melalui suntikan. Karena penggunaannya yang lebih simpel, metode kontrasepsi jenis ini banyak peminatnya.

Namun, belum lama ini, seorang ibu menuliskan curhatannya di media sosial terkait dengan pengalamannya menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik ini. Mey Erlin, mengatakan ia harus menjalani operasi pembersihan rahim beberapa hari yang lalu karena efek penggunaan KB suntik 3 bulanan.

Ceritanya, 3 tahun lalu Mey Erlin memutuskan untuk KB suntik 1 bulan setelah masa nifas pada kelahiran anak pertamanya. Saat itu, ia masih mengalami haid dengan normal. Namun, saat bulan berikutnya ia kembali ke bidan, bidan menyarankan untuk beralih KB suntik 3 bulanan. Setelah ini, ia tidak lagi mengalami haid. Hingga saat ia merencanakan untuk hamil kembali dan tidak lagi menggunakan KB suntik pada Februari 2017.

Hingga beberapa bulan ia masih tidak mengalami haid dan malah merasakan sakit perut selama beberapa hari. Setelah menemui dokter spesialis kandungan dan melakukan pemeriksaan USG, diketahui bahwa terjadi pembengkakan dan infeksi pada rahim Mey.

Dokter menjelaskan bahwa pembengkakan terjadi karena darah kotor tidak keluar selama 3 tahun. Dan oleh sebab itu, Mey tidak bisa hamil sebelum rahimnya dibersihkan terlebih dahulu. Akhirnya Mey menjalahi operasi pembersihan rahim pada 5 September lalu.

KB Suntik 3 Bulan dan Resikonya

Kontrasepsi jenis ini tergolong aman dan praktis. Menurut beberapa ahli kesehatan, jenis ini tidak berpengaruh pada produksi ASI jika si ibu sedang menyusui saat menggunakannya. Namun, ada beberapa efek samping yang perlu diwaspadai dari penggunaan KB jenis ini:

  1. Timbulnya gangguan menstruasi

Jika Bunda berhenti mengalami haid sama sekali (amenore) selama beberapa bulan setelah suntik, maka konsultasikan dengan dokter spesialis kandungan sesegera mungkin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

  1. Gangguan masalah kesuburan

Kesuburan akan kembali dengan lambat setelah menghentikan pemakaian kontrasepsi ini.

  1. Menurunkan kepadatan tulang

Penggunaan kontrasepsi ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya penipisan pada tulang.

  1. Dapat menyebabkan depresi

Penyuntikan hormon progesteron bisa berakibat pada perubahan aktivitas tubuh. Hal ini akan menyebabkan cepat merasa lelah, lesu, pusing, kurang bersemangat, dan sebagainya.

Nah, jika Bunda dan Ayah merencanakan untuk mengatur jarak kelahiran sang buah hati, tentu perlu untuk mengetahui lebih banyak info terkait berbagai pilihan kontrasepsi. Jangan lupa untuk konsultasikan dengan dokter spesialis untuk pilihan Ayah dan Bunda.

7 COMMENTS