Tips Finansial: 4 Aturan Beri Uang Saku Untuk Anak

2
680

Saat anak-anak mulai bersekolah, tentu orangtua mulai memikirkan uang saku untuk mereka. Memberikan uang saku untuk anak bukan hanya sekedar memberi uang jajan pada mereka. Namun, ini bisa jadi latihan bagi mereka buat mengelola keuangan dan bertanggung jawab dengan uang yang diberikan padanya.

Orangtua perlu mempertimbangkan paling tidak 3 hal ini sebagai pedoman memberi uang saku pada anak-anak:

1. Usia ideal anak menerima uang saku

Menurut Janet Bodnar, seorang pakar finansial keluarga, menjelaskan bahwa ketika anak-anak mulai bisa menunjukan keinginannya terhadap sesuatu yang bersifat materi, saat itulah waktu yang tepat untuk memberikan uang saku padanya. Bodnar mengatakan, ini usia anak sekitar 3-5 tahun.

Kebanyakan orangtua menurut Bodnar telat memberikan uang saku, yakni ketika mereka sudah berusia 8-10 tahun. Semakin dewasa anak-anak dan semakin luas interaksinya dengan yang lain, tentu pengaruh dari luar juga lebih besar.

Dengan memberikan uang saku di usia 8-10 tahun di mana pengaruh dari luar semakin besar, menurut beberapa orang tua ini lebih menyulitkan mereka ketika mengajarinya mengatur keuangan. Namun, diusia 3-5 tahun mereka masih mau diajak ngobrol orang tua dalam hal mengatur uang saku mereka.

2. Sesuaikan dengan kebutuhan anak

Masing-masing orangtua tentu berbeda dalam hal memutuskan besaran uang saku termasuk waktu pemberiannya. Apakah diberikan harian, mingguan, atau bulanan. Ini juga disasari dengan kemampuan finansial dari para orangtua.

Yang terpenting ajarkan pada mereka untuk menyisihkan sebagian uang sakunya agar ketika anak ingin membeli sesuatu yang mendadak, ia punya tabungan dari sisa uang sakunya.

Orang tua tak perlu membandingkan orangtua lain dalam memberikan uang saku untuk anaknya. Karena Bunda yang lebih mengenal kebutuhan anak dan kemampuan finansial kita.

3. Bedakan dengan imbalan/reward

Janet Bodnar mengingatkan agar orangtua memisahkan uang saku dengan reward atau imbalan ketika anak-anak mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah atau yang lainnya.

Misal ketika anak-anak punya kewajiban untuk membantu merapihkan kamar dan menyapu kamarnya setiap sore. Jangan jadikan uang saku sebagai imbalannya.

Karena ketika anak-anak sudah mendapatkan uang dari yang lain misalnya dari saudara atau hasil ia belajar berbisnis kecil-kecilan (seperti uang sewa hasil meminjamkan buku komik pada temannya), maka ia tidak akan butuh uang saku dan enggan melakukan kewajibannya di rumah.

4. Jika takut anak membeli jajanan yang tidak sehat

Ingat, bahwa uang saku bukan sekedar uang jajan agar mereka tak kelaparan saat di sekolah. Tapi, cara untuk mengajari mereka mengatur keuangannya dan bijak dalam memutuskan apa yang ingin dibeli.

Jadi, tetap bekali mereka makanan untuk mereka makan di sekolah. Kasih pengertian pada mereka bahwa uang saku untuk kebutuhan mereka di sekolah tapi bukan untuk jajan makanan sembarangan.

Beri mereka pengertian bahwa banyak makanan yang tidak sehat yang bisa membuat badan mereka sakit. Jika telah terbiasa, anak-anak akan memiliki kesadaran untuk tidak jajan sembarangan.